Penyelidik WHO akan berkunjung, China perkuat narasi tentang COVID-19

Penyelidik WHO akan berkunjung, China perkuat narasi tentang COVID-19

Warga memberikan formulir untuk menerima vaksin penyakit virus korona (COVID-19) di tempat vaksinasi sementara di distrik Chaoyang, Beijing, China, Minggu (3/1/2021). (ANTARA FOTO/cnsphoto via REUTERS/rwa/cfo)

Shanghai (ANTARA) - Saat tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap mengunjungi China untuk menyelidiki asal-usul COVID-19, Beijing telah meningkatkan upaya untuk mencegah wabah baru sekaligus juga membentuk narasi tentang kapan dan di mana pandemi dimulai.

China telah menepis kritik terhadap penanganan awal virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Kota Wuhan pada akhir 2019, dan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying mengatakan pada Senin (4/1) bahwa negaranya akan menyambut tim WHO.

Tetapi di tengah ketegangan geopolitik yang membara, para ahli mengatakan para penyelidik tidak mungkin diizinkan untuk meneliti beberapa aspek yang lebih sensitif dari wabah itu, dengan keputusasaan Beijing untuk menghindari kesalahan atas virus yang telah menewaskan lebih dari 1,8 juta orang di seluruh dunia.

"Bahkan sebelum penyelidikan ini, para pejabat tinggi dari kedua belah pihak telah sangat terpolarisasi dalam pendapat mereka tentang asal-usul wabah," kata Yanzhong Huang, anggota senior Council on Foreign Relations, sebuah wadah pemikir Amerika Serikat.

"Mereka harus paham politik dan menarik kesimpulan yang dapat diterima oleh semua partai besar," tambahnya.

Sementara negara-negara lain terus berjuang melawan lonjakan infeksi, China telah secara agresif memadamkan serangan virus. Setelah sekelompok kasus baru minggu lalu, Kota Shenyang menutup seluruh komunitas dan mewajibkan semua pekerja yang tidak esensial untuk tinggal di rumah.

Pada Sabtu (2/1), Menteri Luar Negeri Wang Yi memuji upaya anti-pandemi, dengan mengatakan China tidak hanya menahan infeksi domestik, tetapi juga "memimpin dalam membangun pertahanan anti-epidemi global" dengan memberikan bantuan ke lebih dari 150 negara.

Namun, mengingat kritik yang dihadapi China di seluruh dunia, Wang juga menjadi pejabat tertinggi yang mempertanyakan konsensus tentang asal-usul COVID-19, dengan mengatakan "semakin banyak penelitian" menunjukkan bahwa virus itu muncul di berbagai wilayah.

China juga satu-satunya negara yang mengklaim COVID-19 dapat ditularkan melalui impor rantai dingin, dengan negara tersebut menyalahkan wabah baru di Beijing dan Dalian pada pengiriman yang terkontaminasi---meskipun WHO telah meremehkan risiko tersebut.

Transparansi

China telah dituduh menutup-nutupi fakta yang menunda respon awalnya, yang memungkinkan virus menyebar lebih jauh.

Topik ini tetap sensitif, dengan hanya sedikit studi tentang asal-usul COVID-19 yang tersedia untuk umum. Namun, ada juga tanda-tanda China bersedia membagikan informasi yang bertentangan dengan gambaran resmi.

Pekan lalu, sebuah studi oleh Pusat Pengendalian Penyakit China menunjukkan bahwa sampel darah dari 4,43 persen populasi Wuhan mengandung antibodi COVID-19, yang menunjukkan bahwa tingkat infeksi di kota itu jauh lebih tinggi daripada yang diketahui semula.

Namun, para ilmuwan mengatakan China juga harus membagikan temuan apa pun yang menunjukkan COVID-19 beredar di dalam negeri jauh sebelum secara resmi diidentifikasi pada Desember 2019.

Sebuah penelitian di Italia menunjukkan bahwa COVID-19 mungkin telah ada di Eropa beberapa bulan sebelum kasus resmi pertama China. Media pemerintah China menggunakan makalah tersebut untuk mendukung teori bahwa COVID-19 berasal dari luar negeri dan masuk ke negara itu melalui makanan beku yang terkontaminasi atau atlet asing yang berkompetisi di Pertandingan Militer Dunia di Wuhan pada Oktober 2019.

Raina MacIntyre, kepala Program Penelitian Ketahanan Hayati Kirby Institute di Australia, mengatakan penyelidikan diperlukan untuk menarik "gambaran global yang komprehensif dari petunjuk epidemiologi", termasuk bukti bahwa COVID-19 ada di luar China sebelum Desember 2019.

Namun, masalah politik berarti mereka tidak mungkin diberi banyak kelonggaran untuk menyelidiki satu hipotesis, bahwa wabah itu disebabkan oleh kebocoran di Institut Virologi Wuhan, kata MacIntyre.

"Saya pikir tidak mungkin semua virus di laboratorium pada saat itu akan tersedia untuk tim. Jadi menurut saya kita tidak akan pernah tahu yang sebenarnya," ujar dia.

Baca juga: India temukan lagi 20 kasus jenis baru COVID-19

Baca juga: Italia berlakukan pembatasan nasional pascaliburan untuk cegah COVID


Sumber: Reuters
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021