Gus Dur-Hindu Bali, FPI-Polri, dan radikalisasi digital 2021

Gus Dur-Hindu Bali, FPI-Polri, dan radikalisasi digital 2021

Ilustrasi - Tokoh NU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat membuat tulisan. ANTARA/HO-dokumen keluarga/tangkapan layar WhatsApp.

Denpasar (ANTARA) - Entah kebetulan atau tidak, baku tembak FPI-Polri di Tol Jakarta-Cikampek terjadi pada 7 Desember 2020, sedangkan tokoh kemanusiaan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), meninggal dunia pada 30 Desember 2009 (11 tahun silam). Sama-sama terjadi di Bulan Desember.

Bedanya, baku tembak FPI-Polri pada awal Desember itu berujung "perang" medsos akibat tewasnya enam anggota FPI, sedangkan meninggalnya Gus Dur pada akhir Desember itu justru berujung "damai" akibat keakraban Gus Dur dengan krama Hindu Bali.

"Di Bali, Gus Dur tidak hanya dikenal oleh kalangan Muslim, karena Gus Dur justru lebih akrab bersama krama (masyarakat) Hindu," kata seorang pengurus NU Bali Gus Ainun Ni'am dalam Haul Gus Dur di Ashram Gandhi Puri Denpasar, 7 Januari 2020.

Dalam Haul Gus Dur awal tahun yang dipimpin oleh Ida Rsi Putra Manuaba dan telah diarsipkan dalam video youtube Channel Aswaja Dewata itu, Gus Ainun Ni'am menceritakan Gus Dur jika ke Bali lebih suka "main" ke Puri, Pura, Ashram dan tokoh-tokoh Hindu.

"Hal itu membingungkan Muslim di Bali, khususnya warga NU. Abah Yai (KH. Noor Hadi) sempat protes: Gus, kenapa kok tidak main ke kantor NU, tidak main ke masjid? Gus Dur malah mainnya ke Puri, Pura, Ashram dan beberapa tokoh Hindu," ungkapnya.

Ternyata, Gus Dur main ke Puri dan beberapa tokoh Hindu itu bertujuan membangun ikatan persaudaraan sesama anak bangsa tanpa melihat suku, agama, ras/etnis, dan antargolongan/strata.

"Secara tidak langsung, beliau menitipkan kita semua. Gus Dur menitipkan umat Islam di Bali kepada para raja dan tokoh Hindu di Bali agar menjaga Muslim di Bali," katanya.

Akhirnya, keakraban Gus Dur dengan umat Hindu di Bali itu sangat terasa manfaatnya setelah ia wafat. "Ketika teman-teman Ansor mengadakan kegiatan, krama Hindu selalu membantu untuk memasang bendera NU, karena ingat sama Gus Dur," katanya.

Bahkan, pusat agama Hindu, Ashram Gandhi Puri, di Kabupaten Klungkung, memiliki sebuah ruangan kecil yang diberi nama Gus Dur Bhavan. Ruangan itu menyimpan barang-barang milik Gus Dur yang tertinggal seperti dua buah baju, celana panjang hitam, peci, tongkat, foto, kursi yang biasa dipakai untuk duduk.

"Gus Dur meninggalkan banyak pesan yang layak diteladani oleh masyarakat seluruh dunia. Salah satunya adalah rasa toleransi dan pesan kemanusiaan. Pesan Gus Dur yang saya ingat adalah lakukanlah kebajikan. Niscaya, orang tak akan pernah bertanya latar belakang agama, suku dan ras kita," kata Ketua FKUB Bali, Ida Bagus Gede Wiyana (28/12/2013).

Baca juga: Pakar: Polri-TNI didukung menindak tegas kelompok ekstrem radikal

Ya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang giat menjalin hubungan dengan siapa saja, bahkan dengan yang berbeda agama pun sangat akrab. Istilahnya bisa disebut Islam Ramah, Islam Rahmat, Islam Nusantara, atau apapun yang intinya menebarkan dakwah "Islam Rahmatan lil Alamin" sebagai tercantum dalam Quran Surat Al-Anbiya ayat 107. "Indonesia ada hingga sekarang karena keberagaman," kata Gus Dur dalam buku tentang pasangan Konghucu yang sedang memperjuangkan hak sipilnya.

Strategi dakwah "Rahmat" itu berbeda jauh dengan pola dakwah yang dilakukan oleh kelompok yang selalu mengajak pada tindakan radikal, sehingga "marwah" Rasulullah yang pengasih dan penyayang pun hilang. Ya, Islam adalah rahmat bagi alam semesta dan alam semesta ini bukan hanya dihuni kaum Muslim, sehingga Islam itu agama damai tanpa sekat.

Dalam Webinar Internasional tentang dakwah yang diselenggarakan oleh LD PWNU Jawa Barat yang disiarkan secara langsung oleh NU Jabar Channel (15/12/2020), Rais Syuriyah PCINU Australia dan New Zealand, Prof KH Nadirsyah Hosen, menyebutkan kelompok di luar NU mendakwahkan radikalisasi melalui lima modus.

Kelima modus dakwah radikal adalah membenturkan ayat; memilih ayat/hadits dalam situasi perang untuk diterapkan dalam situasi damai; gemar mengutip hadits yang mengisahkan Rasulullah mencela, melaknat, bahkan memerintahkan pembunuhan, untuk melegitimasi tindakan pribadi; me-nasakh ayat-ayat rahmah/damai dengan satu ayat saif/perang; dan sengaja memenggal fragmen kisah sahabat Nabi untuk men-justifikasi tindakan kekerasan.

Mereka suka membenturkan ayat, padahal Alquran itu memang memiliki ayat makkiyyah dan ayat madaniyyah, ada nasakh dan ada mansukh, ada juga ayat yang membuka ruang perbedaan pendapat, meskipun sebenarnya tidak ada yang kontradiksi dalam Alquran.

Tapi, mereka sengaja memunculkan ayat-ayat yang bernuansa kekerasan, misalnya "asyiddau alal kuffar ruhamau bainahum" (tegas terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama muslim), sedangkan NU lebih mengedepankan Islam yang Rahmatan lil Alamin. Hal ini perlu diterangkan dan dipidatokan.

Cara kedua, mereka juga memilih ayat atau hadits dalam situasi perang untuk diterapkan dalam situasi damai, misalnya penjelasan tentang Nabi Muhammad berperang dan membunuh orang kafir, padahal situasi perang itu berbeda dengan situasi damai, seperti Indonesia yang ada dalam situasi damai.

Cara ketiga, mereka juga gemar mengutip hadits yang mengisahkan Rasulullah mencela, melaknat, bahkan memerintahkan pembunuhan, padahal hal itu hanya untuk melegitimasi tindakan pribadinya, sedangkan sosok Nabi itu sesungguhnya sangat pengasih dan bertoleransi kepada non-muslim. Terkait riwayat-riwayat Rasulullah yang seperti itu perlu jarh wa ta'dil, naqd sanad (referensi/rujukan), melacak matan (konteks), dan konsep-konsep yang diajarkan dalam ilmu musthalah hadits.

Cara keempat, mereka suka me-nasakh ayat-ayat rahmah dengan satu ayat saif. Ratusan ayat tentang dakwah Nabi yang ramah dan toleran, dinasakh begitu saja dengan satu ayat saif (ayat pedang/perang). Ada berragam pendapat para ulama tentang ayat ini yang perlu dikampanyekan agar "jualan" ayat saif tidak laku lagi.

Cara kelima, mereka sengaja memenggal fragmen kisah sahabat Nabi, untuk men-justifikasi tindakan kekerasan. Salah satu yang populer adalah kisah sahabat Nabi bernama Abi Sarah. Dikisahkan bahwa ia dianggap melecehkan Alquran dan Nabi mengeksekusinya sebelum Fathu Makkah.

"Dengan mengangkat riwayat ini, mereka ingin menegaskan bahwa yang menghina Alquran atau ajaran Islam, itu harus dibunuh, ternyata riwayat sebenarnya tidak begitu. Abi Sarah tidak pernah dieksekusi. Justru pada saat Fathu Makkah, Rasulullah memaafkannya atas saran dari sahabat Utsman bin Affan, kemudian ia ikut memperjuangkan Islam, menjabat gubernur dan wafat saat sedang shalat subuh. Jadi, ceritanya belum lengkap disampaikan, tetapi dipenggal dan disebarluaskan," kata dosen Monash University itu.

Baca juga: MUI Kalsel: Radikal muncul karena masalah agama yang ditekan

"Perang" medsos
Kini, strategi dakwah yang provokatif (bertujuan mendirikan Negara Islam dan menargetkan kekuasaan/kepemimpinan) itu pun semakin runyam, karena kelompok radikal melakukan lima modus berdakwah itu menggunakan ruang-ruang maya di media sosial, sehingga masyarakat yang tidak paham ilmu agama dan juga tidak paham medsos pun mudah dikompori. Akhirnya, "marwah" Islam pun runtuh.

"Akhir-akhir ini kita sering diarahkan pada informasi tentang Rizieq Shihab, padahal banyak informasi lain yang lebih bermanfaat untuk publik, namun selalu saja ada informasi soal tokoh itu, saat dikawal, saat baku tembak, saat diperiksa, saat ditahan, selalu itu-itu saja, kenapa begitu ya," ujar seorang mahasiswa dalam sebuah workshop.

Pertanyaan seorang mahasiswa tentang agenda setting dalam "Workshop Jurnalistik dan Fotografi" yang diadakan LKBN ANTARA Biro Bali dalam rangka HUT Ke-83 LKBN ANTARA di Gedung Dharmanegara Alaya (DNA) Denpasar, Bali (13/12/2020) itu agaknya terkait fenomena pasca-baku tembak FPI-Polri di Tol Jakarta-Cikampek yang riuh ditingkahi "perang" medsos.

Dampaknya, "perang medsos" antara FPI dan Polri yang cukup gencar itu mempengaruhi sikap media dan publik untuk fokus pada "perang medsos" yang terkadang hoaks itu, karena informasi yang salah sekalipun bila disampaikan secara gencar atau bertubi-tubi akan dapat saja dianggap benar. Umumnya, publik masuk dalam jebakan medsos karena "bertubi-tubi" itu.

Percaya atau tidak, "perang medsos" FPI versus Polri itu sangat bertubi-tubi di ruang-ruang publik yang maya, baik whatsapp, youtube, facebook, twitter, maupun platform digital lainnya, sehingga banyak informasi radikal yang kini dipercaya masyarakat, meski kebenarannya masih perlu diuji, tapi publik sangat malas menguji kebenaran video/foto.

Contohnya, akun Twitter yang menyebutkan tiga anggota Badan Intelijen Negara (BIN) telah menyusup ke sebuah pesantren di Megamendung, Bogor, pada awal Desember 2020. Usaha memasuki pesantren itu dlakukan secara diam-diam oleh para anggota BIN untuk menghilangkan nyawa Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

Narasi lengkapnya: "PERANG INTELIJEN!! !! !! Intelijen FPI vs Intelijen BIN. Jumat, 4 Des 2020 : 3 Aggota BIN menyusup ke Pesantren Agrokultural MARKAZ SYARIAH di Mega Mendung - BOGOR, menyamar sbg JURNALIS, menggunakan Mobil dg Nopol Palsu & bawa peralatan Drone Super Canggih".

Narasi lainnya menyebutkan bahwa "Aksi tiga orang yang disebut sebagai anggota BIN itu gagal karena berhasil dibekuk intelijen FPI. Setelah diinterogasi, para anggota BIN itu dilepaskan tanpa penganiayaan dan penyiksaan.

Isi klaim yang viral di Twitter itu dibantah Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta (7/12). "Hoaks itu (foto anggota BIN yang beredar di media sosial telah melakukan pembuntutan dan pengintaian Rizieq Shihab)," kata Wawan.

Baca juga: Survei BNPT 2020 nyatakan potensi radikalisme menurun

Tidak hanya twitter, ada pula foto-foto yang diklaim sebagai foto jenazah anggota FPI yang ditembak aparat kepolisian beredar di dunia maya. Salah satu situs internet yang turut menyebarkan foto itu adalah situs democrazy.id. Judul konten situs itu adalah: "EKSKLUSIF - Foto-foto Enam Jenazah Anggota FPI yang Ditembak Polisi Berlumuran Darah Wajah Penuh Luka Lebam".

Dalam konten tersebut, disebut ada enam foto jenazah yang terbaring di rumah sakit dengan kondisi penuh luka dan darah. Konten tersebut juga mencatut pernyataan Ketua Bantuan Hukum FPI Sugito Atmo Pawiro yang membenarkan foto itu merupakan foto enam aggota FPI.

Padahal, judul konten situs yang sudah diubah itu bukan menampilkan foto-foto anggota FPI, melainkan foto dua pelaku perampokan bersenjata api di toko emas Cahaya Muri di Sungai Lilin Muba, Sumatera Selatan. Foto serupa dapat dilihat di situs beritapagi.co.id dengan judul "Dua Perampok Toko Emas Cahay Muri Ditembak Mati, Satu Pelaku lainnya Dilumpuhkan". Berita itu terbit pada Sabtu (28 Maret 2020).

Selain twitter dan situs, ada pula pesan berantai di aplikasi WhatsApp serta unggahan di media sosial yang menampilkan gambar sampul Majalah Tempo berjudul "Sang Dalang Perusak Bhinneka", pada pekan kedua Desember 2020.

Dalam gambar yang diklaim sebagai sampul majalah berita Tempo itu, terlihat ilustrasi tokoh yang menyerupai mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Gambar dengan latar putih itu turut memperlihatkan karikatur menyerupai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, penyidik KPK Novel Baswedan, serta Pimpinan FPI Rizieq Shihab.

Tertulis pula narasi berikut dalam sampul tersebut: "Rekaman suara Danny Pomanto membongkar keterlibatan Jusuf Kalla dalam strategi menjatuhkan wibawa pemerintah Indonesia dan mengamankan jaringan bisnis keluarga. Gerindra disusupi 'HMI Connection' yang pro Habib Rizieq".

Sampul majalah dengan judul "Sang Dalang Perusak Bhinneka" itu dibantah pengelola Majalah Tempo sendiri. Melalui akun Twitter @temponewsroom, pengelola Majalah Tempo menyatakan gambar sampul yang menampilkan karikatur Jusuf Kalla tersebut merupakan hoaks, baik gambar karikatur Jusuf Kalla maupun judul dalam majalah itu.

"Ini hoax ya tweeps! Nantikan edisi terbaru Majalah Tempo yang terbit setiap hari minggu," demikian isi cuitan @temponewsroom pada Rabu (9/12/2020). Hasil penelusuran ANTARA bahwa sampul Majalah Tempo dengan edisi terbit pada 7-13 Desember 2020 berjudul "Outlook Ekonomi 2021: Saatnya Berubah". Benar-benar hoaks, bukan?!.

Soal baku tembak di tol yang diragukan bahwa kelompok FPI tidak mungkin memiliki senjata api, justru terungkap dalam rekonstruksi baku tembak di Tol Cikampek yang juga diikuti Tim Independen. Dua dari empat anggota FPI yang berada dalam satu mobil ternyata sudah meninggal dunia saat baku tembak di jalan Interchange Karawang Barat, sebelum memasuki jalan Tol Jakarta-Cikampek.

"Sejak rekonstruksi di titik pertama, petugas sudah mendapat serangan dari kelompok itu. Atas hal tersebut, petugas membalas dan melakukan tindakan tegas terukur. Di dua titik rekonstruksi sebelum memasuki jalan tol, terjadi baku tembak antara petugas dengan pelaku," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono di sela rekonstruksi, Senin (14/12/2020).

Dalam rekonstruksi di rest area (titik ketiga rangkaian rekonstruksi), empat orang pelaku tak berkutik dan menuruti perintah petugas untuk keluar dari dalam mobil. Mereka kemudian digeledah, hingga dalam mobil ditemukan satu buah senjata api beserta 10 amunisi, satu buah ketapel beserta 10 kelereng, satu tongkat berujung runcing, serta beberapa senjata tajam jenis celurit dan pedang.

Saat pemeriksaan Rizieq Shihab pun muncul "perang" medsos yang memprovokasi masyarakat awam, seperti ulama yang diborgol, padahal proses borgol dalam penyidikan adalah biasa, baik kepada mantan pejabat maupun Rizieq Shihab tanpa ada perbedaan perlakuan.

Agaknya, radikalisasi 2021 dan seterusnya sudah memasuki proses radikalisasi digital, sehingga perlu diperangi dengan literasi digital untuk generasi milenial dan masyarakat awam. "Kelompok radikal itu berharap dengan penetrasi melalui dunia digital akan semakin banyak pendukung milenial yang mengusung ideologi terorisme yang mengedepankan kekerasan, intoleran, menghalalkan segala cara," kata Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar, di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Forum Koordinaasi Pencegahan Terorisme di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, 15-17 Desember 2020.
Pewarta : Edy M Yakub
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020