Pemprov Kepri apresiasi UNESCO tetapkan pantun warisan dunia

Pemprov Kepri apresiasi UNESCO tetapkan pantun warisan dunia

Sekda Kepri Tengku Said Arif Fadillah. ANTARA/Nikolas Panama/pri.

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memberi apresiasi kepada organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan dunia (UNESCO) yang telah menetapkan pantun asal Riau sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Sekretaris Daerah Kepri Tengku Said Arif Fadillah di Tanjungpinang, Sabtu, juga mengucapkan terima kasih kepada budayawan dan tokoh melayu yang bertungkus lumus memperjuangkan pantun asal Kepri dan Riau agar diakui dunia.

"Perjuangan para tokoh, budayawan dan maestro pantun akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Kepri. Ini tentu menjadi bagian sejarah pantun yang selalu diingat dunia," katanya.

Menurut dia, perjuangan agar pantun asal Kepri ditetapkan sebagai warisan dunia tidak terlepas dari keuletan para tokoh melayu dan budayawan seperti Abdul Malik Abdul Malik, dan Syahrial dari Dinas Kebudayaan, dan Datok Alipon "Sang Maestro Pantun" asal Kepri.

"Kami bangga terhadap perjuangan mereka, bertahun-tahun tidak kenal lelah, dan sekarang membuahkan hasil untuk Kepri dan Indonesia," ucapnya.

Sebelumnya, budayawan asal Kepri Abdul Malik merasa lega dan bahagia
setelah bertahun-tahun memperjuangkan pantun asal Kepri dan Riau agar masuk dalam Warisan Takbenda Dunia.

"Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga usulan kami. Kita patut bersyukur karena pantun Kepulauan Riau dan Riau dipilih untuk mewakili Melayu Indonesia," ucap Abdul Malik, yang juga Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Untuk memperjuangan pantun ditetapkan sebagai warisan dunia, kata dia tidak mudah. Sejumlah budayawan dan tokoh melayu di Kepri dan Riau membentuk tim.

Tim asal Kepri terdri dari Abdul Malik Abdul Malik, dan Syahrial dari Dinas Kebudayaan. Sementara narasumber utama yakni Datok Alipon, Sang Maestro Pantun asal Kepri.Berbagai kegiatan dilakukan, termasuk rapat kerja yang sudah berulang kali dilakukan.

Tim mengumpulkan data-data, dan menganalisis hingga membuahkan naskah akademik pada tahun 2017.
Bersamaan dengan itu, tim telah mengerjakan naskah akademiknya sejak Maret 2017.

"Banyak sekali rapat tim dilaksanakan, selain di Jakarta juga di Tanjungpinang. Telah pula dilakukan beberapa kali revisi naskah untuk melengkapi data," ujarnya.

Malik berpendapat bahwa sekarang Kepri dapat menggunakan ikon "Kepulauan Riau, Negeri Pantun Warisan Dunia".
Seperti Malaka menggunakan ikon
"Melaka, Bandaraya Bersejarah Warisan Dunia" sejak Malaka diresmikan sebagai Kota Warisan Dunia oleh UNESCO.

"Sebagai ketua tim dari Kepri, yang ditunjuk, saya begitu bahagia dan terharu dengan penetapan pantun sebagai warisan budaya takbenda dunia.

Diharapkan kejayaan pantun ini menambah semangat kita semua, pemerintah daerah, masyarakat, pekerja seni-budaya, dan akademisi untuk mengembangkan dan membina budaya melayu di Kepulauan Riau," tuturnya.
Pewarta : Nikolas Panama
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020