IESR bantu penyediaan informasi mengenai tenaga surya melalui SolarHub

IESR bantu penyediaan informasi mengenai tenaga surya melalui SolarHub

Salah satu pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terpusat di Pos Jaga TNI, perbatasan Indonesia-Papua Nugini, Provinsi Papua. ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM/am.

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Institute for Essential Services Reform (IESR) berupaya membantu penyediaan informasi mengenai penggunaan tenaga surya, agar pemanfaatan listrik menjadi ramah lingkungan, dengan meluncurkan portal daring Solarhub Indonesia (solarhub.id).

Portal ini dapat memberikan informasi seputar energi surya bagi calon pengguna Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dan menghubungkan konsumen dengan perusahaan penyedia produk dan pemasangan PLTS atap.

"Survei pasar kami di Jabodetabek menunjukkan 7 dari 10 orang pemilik rumah tertarik dengan PLTS atap, namun hanya 8 persen yang merasa ini relevan, karena belum paham dengan teknologi, harganya yang dianggap mahal, dan memiliki banyak pertanyaan terkait produk," kata Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Pertamina: Total potensi energi alternatif di Indonesia capai 417,8 GW

Fabby mengatakan penyediaan portal ini dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, mengingat persepsi warga maupun pelaku usaha di sektor bisnis dan UMKM terhadap PLTS atap sangat positif.

Menurut dia, saat ini masih terjadi kebimbangan para pelanggan untuk memasang PLTS atap karena minimnya informasi maupun sosialisasi aturan mengenai penggunaan instalasi surya ini.

Selain itu, tambah Fabby, informasi lainnya juga belum memadai terutama mengenai prosedur pemasangan PLTS atap tersambung jaringan (on-grid), manfaat yang dirasakan dan cara pembelian produk yang masih terbatas serta hanya terkonsentrasi di kota-kota besar di Jawa.

Manajer Program Akses Berkelanjutan IESR Marlistya Citraningrum menambahkan ketimpangan informasi maupun lokasi tersebut telah berpengaruh kepada tingkat adopsi maupun pemanfaatan PLTS atap.

Saat ini, dari 2.566 pelanggan PLN yang telah menggunakan PLTS atap, lebih dari 2.300 diantaranya berada di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Baca juga: Listrik tenaga surya jangkau perbatasan Papua

"Mereka yang tinggal di kota besar cenderung lebih diuntungkan karena ketertarikan mereka pada PLTS atap langsung terjawab dengan ketersediaan informasi yang cukup lengkap. Mereka juga terbantu dengan kantor regional PLN yang lebih paham pada pemasangan PLTS," katanya.

Untuk itu, melalui SolarHub Indonesia, calon pelanggan dapat menghitung rincian kebutuhan PLTS atap dan persentase penghematan listrik. Calon pelanggan juga dapat mengakumulasi besar anggaran yang diinvestasikan dari pemasangan PLTS dengan aplikasi kalkulator canggih di platform tersebut.

Ketua Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap Bambang Sumaryo mengatakan kehadiran portal ini sangat bermanfaat untuk memberikan informasi kepada masyarakat, mengingat masih ada tantangan dalam pemasangan PLTS atap.

"Masih adanya keraguan dari pengelola jaringan untuk memasang. Hal ini berkaitan dengan sulitnya ketersediaan KWH exim, terutama di daerah. Ini akan membuat pengguna PLTS ke jaringan on grid sehingga lebih hemat," katanya.

Meski demikian, Bambang yang sudah enam tahun memasang PLTS atap, mengakui sudah mulai terjadi perubahan signifikan terkait kesadaran masyarakat dalam memasang instalasi surya di atas rumah.

"Saat ini pasar PLTS atap semakin terbuka lebar karena sudah tersedia secara online dan juga terjadi penurunan harga," ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, pelanggan PLN yang menggunakan PLTS makin meningkat karena dipicu oleh regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu Permen ESDM No. 49/2018 yang direvisi dengan Permen ESDM No. 13/2019 dan Permen ESDM No. 16/2019.

Faktor pemicu lainnya adalah semakin banyaknya perusahaan penyedia layanan pemasangan PLTS atap dan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan PLTS atap sebagai bagian dari gaya hidup.

Hasil survei IESR di Jawa Tengah menunjukkan potensi pasar PLTS atap hingga 9,6 persen untuk kelompok residensial, 9,8 persen untuk bisnis/komersial, dan 10,8 persen untuk UMKM.

Potensi pasar ini adalah calon konsumen yang disebut sebagai early adopters dan early followers atau kelompok yang sudah memiliki ketertarikan untuk menggunakan PLTS atap dan tidak terlalu sensitif pada harga sistem.

Calon pelanggan ini hanya membutuhkan informasi yang jelas dan lugas tentang regulasi, prosedur, manfaat yang bisa dirasakan, dan product knowledge yang lengkap, termasuk skema pembelian dan layanan purna jual. Untuk kelompok residensial saja, potensi pasar ini setara dengan 533.000 rumah tangga.

Potensi ini juga menunjukkan bahwa target energi surya di Indonesia dapat dicapai dengan mudah melalui pemanfaatan PLTS atap, yang harus didukung dengan adanya kombinasi kebijakan dan regulasi yang memadai.

Selain itu, penggunaan instalasi surya ini harus didukung informasi yang lengkap dan merata tentang PLTS atap, prosedur pemasangan, penyedia produk dan layanan pemasangan, hingga pilihan skema pembiayaan.

 
Pewarta : Satyagraha
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020