Satgas: Penerapan 3T 100 persen cegah penularan COVID-19

Satgas: Penerapan 3T 100 persen cegah penularan COVID-19

Kasubbid Tracking Satgas COVID-19 dr Kusmedi Priharto (kiri) bersama Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Dr Sonny Harry B. Harmadi (tengah) pada diskusi daring di Jakarta, Kamis. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan hasil penelitian di luar negeri menunjukkan penerapan testing, tracing, treatment (3T) mampu 100 persen mencegah penularan virus corona baru kepada orang lain.

"Penelitian di Indonesia memang belum ada, namun 3T itu bisa 100 persen tidak menularkan," kata Kasubbid Tracking Satgas COVID-19 dr Kusmedi Priharto pada diskusi virtual dengan tema Berburu Zona Hijau: Testing, Tracing, Treatment yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Sedangkan penggunaan masker berdasarkan studi mampu menahan penularan virus lima hingga 90 persen dan menjaga jarak bisa 100 persen tidak menularkan.

Baca juga: Satgas minta pemda tindak tegas masyarakat pelanggar prokes COVID-19

Ia mengatakan bagi masyarakat yang tidak mau membantu pemerintah dalam menerapkan 3T, maka hal itu akan merugikan mereka sendiri. Sebab, tujuan tracing ialah memotong tali penyebaran virus.

Selain itu, 3T sejatinya untuk menolong pasien di tahap awal yang masih bisa ditangani dengan cepat karena dalam kondisi ringan. Namun, jika sudah dalam fase darurat maka pengobatan sulit termasuk tingkat kesakitan pasien lebih tinggi.

Baca juga: Satgas: Kerumunan pendukung Rizieq Shihab berpotensi bahayakan nyawa

"Bayangkan kalau dia sudah masuk ICU, angka kehidupan hanya lima persen," ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Dr Sonny Harry B. Harmadi mengatakan penanganan kesehatan COVID-19 dalam upaya memutus rantai penularan memang merujuk pada 3T ditambah isolasi.

Namun, dari sisi perubahan perilaku masyarakat penerapan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun serta menjaga jarak harus dilakukan secara berkelanjutan.

Baca juga: Pasien sembuh COVID-19 bertambah 3.711 jadi 402.347 orang

"Keduanya ini harus didukung perubahan perilaku. Namun, selama ini kebanyakan yang terjadi di masyarakat cenderung takut untuk dites," katanya.

Untuk mengatasi itu, ia mengaku sedang menyusun panduan kesehatan mental bagaimana agar merubah paradigma dan persepsi masyarakat jika dites dan ternyata positif maka bisa melakukan arahan kesehatan yang dianjurkan.

Baca juga: Positif COVID-19 Indonesia Minggu bertambah 4.106, sembuh 3.897 orang

Ia mengakui salah satu kendala dan masih menjadi pekerjaan Satgas Penanganan COVID-19 saat ini ialah masih banyak masyarakat yang tidak mau dites.

"Mereka sebenarnya bukan malu atau merasa tabu, tapi karena adanya stigma dari masyarakat jadi enggan untuk dites," ujar dia.

Meskipun demikian saat ini masyarakat mulai menunjukkan perubahan perilaku yang positif yakni menerapkan protokol kesehatan dengan kesadaran kolektif secara bertahap.

Baca juga: Bantul terapkan "penguncian" lokal sejumlah ponpes kendalikan COVID-19

Bagi individu-individu yang masih belum taat protokol kesehatan, Sonny berpandangan pada akhirnya mereka akan malu sendiri karena tidak patuh.

#satgascovid19
#ingatpesanibupakaimasker
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020