Kedai Kopi Indonesia pertama dibuka di Altstadt Jerman

Kedai Kopi Indonesia pertama dibuka di Altstadt Jerman

Ilustrasi kedai kopi (Pixabay)

London (ANTARA) - Kedai Kopi Indonesia hadir untuk pertama kali di Jerman, tepatnya di kota Nürnberg berlokasi sangat strategis tersebut, tepatnya di kota tua Altstadt, Nürnberg.

Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Frankfurt, Acep Somantri kepada Antara London, Selasa, mengatakan kota tua Altstadt, Nürnberg, merupakan salah satu tujuan utama wisatawan domestik Jerman maupun internasional

Hal itu, kata dia, merupakan salah satu strategi pemasaran yang tepat bagi My Bali Coffee. Ide My Bali Coffee muncul tahun 2016 digagas sang pemilik, Sascha Bayu Handoyo, laki-laki berdarah Indonesia-Jerman, menggunakan jaringan bisnis keluarganya untuk mendatangkan produk kopi dari Indonesia ke Jerman.

Baca juga: Menperin: Kopi olahan Indonesia sudah dikenal sebagai pemain global

Kedai My Bali Coffee menjual beberapa produknya yang didatangkan langsung dari Indonesia, di antaranya Tiger (Kopi Gayo Aceh), Mandheling, Balistar (Kopi Bali), Luwak, Lintong, dan Robusta.

Selain itu, kedai tersebut juga menjual beberapa produk seperti Espresso, Café Crema, dan Café Vino, serta pernak-pernik aksesori dan kerajinan tangan dari rotan Bali.

Dalam sambutan peresmian My Bali Coffee, Konjen RI Frankfurt mengapresiasi Sascha Bayu Handoyo beserta seluruh tim yang berkontribusi memasarkan produk Indonesia ke Jerman.

Baca juga: Cara minum kopi kekinian agar jadi lebih sehat

Peresmian juga dihadiri perwakilan dari Pemerintah Kota Nürnberg, organisasi integrasi budaya Nürnberg, awak media, perwakilan dari KBRI Berlin, Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) Hamburg, Atase Pertanian, dan Atase Perindustrian KBRI Brussels.

Acara peresmian berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 50 orang dan dimeriahkan dengan pertunjukan Tari Bali yang mengajak para penonton hadir untuk menari bersama.

Baca juga: Permintaan merosot, ekspor kopi Gayo anjlok hingga 70 persen

Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020