WALHI: Kelestarian lingkungan penting untuk ekonomi lokal

WALHI: Kelestarian lingkungan penting untuk ekonomi lokal

Tangkapan layar - Direktur Eksekutif WALHI Nur Hidayati dalam diskusi virtual tentang daya saing daerah yang diselenggarakan Katadata dipantau dari Jakarta, Kamis (8/10/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indoensia (WALHI) Nur Hidayati mendorong meluasnya adopsi gerakan ekonomi sirkular yang menjaga alam karena kelestarian lingkungan sangat penting untuk kelangsungan ekonomi lokal terutama yang menekankan kebudayaan seperti pariwisata.

"Kita musti mengubah model perekonomian kita ini dari yang selam ini linear, yaitu input, output dan waste. Tapi bagaimana ke depan itu adalah kita mengembangkan ekonomi yang lebih sirkular," kata Nur Hidayati dalam diskusi virtual tentang daya saing daerah yang dipantau dari Jakarta pada Kamis.

Ekonomi sirkular adalah sebuah sistem di mana sumber daya dapat dipakai dalam waktu yang lama, digali secara maksimum nilai dan penggunaannya. Tidak hanya itu, ekonomi sirkular juga bersifat restoratif dan regeneratif.

Direktur organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan itu juga mengatakan dengan mengembangkan ekonomi sirkular, manusia tidak bisa lagi mengeksploitasi alam melebihi kapasitas regenaratif dari ekosistem.

Baca juga: Pemangku kepentingan minta "Aliansi Air" menjaga alam

Baca juga: Nelayan Mamuju diminta jaga kelestarian laut


Ia menggarisbawahi kemampuan alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri dan melakukan regenerasi, tapi jika manusia tidak menghormati waktu yang diperlukan untuk itu maka ekosistem alam dapat rusak dan tidak bisa kembali seperti semula.

Dalam kaitannya dengan daya saing di daerah, Nur mengatakan bahwa kelestarian alam sangatlah penting untuk ekonomi lokal apalagi yang menggantungkan pendapatan dari kebudayaan dan alam seperti kerajinan di tingkat UMKM.

Hancurnya ekosistem, tegasnya, bisa mendorong kehancuran dari ekonomi rakyat dan komunitas yang saat ini sudah atau sedang dibangun.

"Kalau basis ekonomi dari kebudayaan maka kebudayaan lokal tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan maupun ekosistemnya. Ketika ekosistem rusak, maka kebudayaan itu juga akan rusak," katanya.

Baca juga: Masih banyak praktik baik menjaga alam di Papua, sebut peneliti

Baca juga: Nelayan Natuna tolak menjaring ikan demi kelestarian lingkungan laut
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020