Kasus meningkat, Banten dan Aceh masuk prioritas penanganan COVID-19

Kasus meningkat, Banten dan Aceh masuk prioritas penanganan COVID-19

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito saat jumpa pers di Kantor Presiden, Kamis (24/9/2020). ANTARA/Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional/pri. (ANTARA/Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional)

Jakarta (ANTARA) - Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menambah Banten dan Aceh sebagai provinsi prioritas penanganan COVID-19 karena jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir di dua provinsi itu.

Sebelum dua provinsi tersebut, Satgas mengelompokkan sembilan provinsi yang termasuk prioritas dalam penanganan COVID-19 yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Papua dan Bali.

Baca juga: Satgas: Perawatan COVID-19 di RS swasta tertentu tidak ditanggung

“Mengapa Banten, karena perlu kami jelaskan, Provinsi Banten ini kasus tertingginya sebenarnya dikontribusikan hanya tiga kabupaten/kota, yaitu Tangerang, Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito di Jakarta, Kamis.

Selain itu, Provinsi Banten juga menjadi aglomerasi dari wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).

Baca juga: Satgas COVID-19 : Tidak ada orang yang kebal corona

“Apabila daerah-daerah ini dikendalikan dengan baik, maka kontribusi penurunan kasusnya lebih tinggi,” ujar dia.

Di samping itu, Satgas Penanganan COVID-19 juga baru saja meninjau kondisi Aceh dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Satgas menerima laporan bahwa jajaran pemerintah daerah Aceh membutuhkan bantuan dari pusat untuk mengendalikan perkembangan kasus COVID-19.

Baca juga: Positif COVID-19 di Indonesia bertambah 4.174, sembuh 3.540 orang

Baca juga: Pasien sembuh dari COVID-19 di DIY bertambah 49

“Mereka merasa perlu bantuan dari pemerintah pusat, khususnya dari Satgas COVID-19 agar laboratorium-nya juga bisa ditambah untuk khususnya PCR di beberapa tempat tertentu misalnya di Aceh Utara, Aceh Tengah dan Aceh Selatan, dan denan melakukan penambahan laboratorium, otomatis nanti bisa jadi terdeteksi kasus lebih banyak,” ujar Wiku.

Kasus COVID-19 di Aceh, kata Wiku, bisa saja jauh lebih banyak dari data terakhir karena terjadi mobilitas penduduk dari dan ke Aceh dalam beberapa waktu terakhir.

“Maka dari itu pembatasan mobilitas penduduk itu sangat penting dalam pengendalian COVID-19 ini,” ujar dia.

Baca juga: Tujuh wafat, IDI Aceh sebut 400 tenaga kesehatan positif COVID-19

 

Pewarta : Indra Arief Pribadi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020