Peneliti ingatkan kapal ikan masih dominan berukuran kecil

Peneliti ingatkan kapal ikan masih dominan berukuran kecil

Ilustrasi - Sejumlah kapal nelayan bersandar di dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Binuangeun, Lebak, Banten. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc/pri.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Madya Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Fayakun Satria mengingatkan bahwa kapal ikan yang terdapat di berbagai daerah yang digunakan nelayan masih didominasi oleh yang berukuran kecil.

"Kapal masih didominasi kapal-kapal berukuran kecil, serta mutu hasil tangkapan ikan masih rendah," kata Fayakun Satria dalam acara konsultasi publik rencana pengelolaan perikanan yang digelar secara virtual di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, dengan kapal yang tidak besar tersebut, maka masih lebih banyak nelayan yang menangkap ikan di perairan sendiri, belum sampai ke laut lepas.

Padahal, lanjutnya, seharusnya didorong adalah pemanfaatan penangkapan ikan di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), sehingga nelayan RI tidak hanya "jago kandang".

Ia juga mengimbau kepada pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan agar benar-benar berkomitmen dan mendukung untuk melaporkan hasil tangkapan mereka.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin menyebutkan sekitar 95 persen kapal berbendera Indonesia yang bekerja mencari ikan di laut dalam usaha perikanan tangkap hanya berkapasitas tidak sampai 30 gross tonnage (GT).

"Dominasi kapal berukuran kecil yakni lima GT ke bawah masih membayangi nelayan kita, sehingga fokus pembangunan dan bantuan nelayan kecil cenderung lebih besar kepada kapal kecil, termasuk pembinaan nelayannya juga masih skala kecil," katanya.

Menurut dia, hal tersebut membuat industri perikanan dalam negeri tertinggal dari negara lain meskipun potensi alam laut di berbagai daerah Tanah Air sangat kaya.

Politisi PKS itu juga mengatakan hingga saat ini penguasaan kapal di atas 30 GT hanya dimiliki segelintir pelaku usaha perikanan.

Padahal, ia mengingatkan bahwa saat ini ikan-ikan di pinggiran sudah mulai sulit didapat sehingga harus melaju semakin ke tengah samudera untuk mendapat ikan.

Bila kondisi nelayan tidak berbekal infrastruktur alat penangkap ikan yang memadai, lanjutnya, ikan-ikan yang menjadi hak negara bakal dikuras oleh negara lain yang memiliki kapal yang lebih memadai dan canggih.

"Pemerintah ke depannya harus mulai intensif dalam pembinaan masyarakat nelayan menuju nelayan berskala menengah. Mulai dari pendampingan SDM, kemudahan dalam permodalan misal KUR untuk nelayan, hingga produksi kapal skala minimal 30 GT," kata Akmal.

Menurut dia, dari sisi memproduksi kapal, Indonesia sangat mampu membuatnya. Bahkan, kemampuan PT PAL Indonesia sangat berkompeten dalam sinergi produksi kapal-kapal seperti ini dalam jumlah massal.

Baca juga: Menteri Edhy: Presiden minta industri perkapalan nasional diperkuat

Baca juga: Anggota DPR sebut 95 persen kapal ikan berukuran kecil

Baca juga: Menteri Edhy beberkan KKP telah tangkap 71 kapal ikan ilegal


 
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020