Masih dalam fase kontraksi, BI catat penjualan eceran Juli membaik

Masih dalam fase kontraksi, BI catat penjualan eceran Juli membaik

Pekerja melakukan proses peningkatan kualitas beras di mesin Rice To Rice (RTR) Gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (2/9/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.

Jakarta (ANTARA) - Penjualan eceran terus membaik meskipun masih berada dalam fase kontraksi, tercermin dari indeks penjualan riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran Juli 2020 dengan pertumbuhan minus 12,3 persen (yoy), membaik dari bulan sebelumnya minus 17,1 persen (yoy).

Perbaikan penjualan diprakirakan terjadi pada hampir seluruh kelompok komoditas yang disurvei, dengan penjualan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kontraksi paling rendah, dengan pertumbuhan minus 1,9 persen (yoy).

"Hal itu sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat dan implementasi adaptasi kebiasaan baru (AKB)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko dalam info terbarunya di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Survei BI catat Indeks Penjualan Riil Juni terkontraksi 17,1 persen

Dijelaskan, kinerja penjualan eceran diprakirakan terus membaik pada Agustus 2020, ditopang hampir seluruh kelompok barang. Pertumbuhan IPR Agustus 2020 diprakirakan minus10,1 persen (yoy), membaik dari bulan sebelumnya.

Penjualan kelompok makanan, minuman dan tembakau diprakirakan mulai mencatat pertumbuhan positif pada Agustus 2020.

Sementara itu, kelompok barang yang lain diprakirakan juga mengalami perbaikan dengan kontraksi yang menurun, kecuali kelompok barang pelengkapan rumah tangga lainnya.

Dari sisi harga, menurut Onny, tekanan inflasi pada tga dan enam bulan mendatang (Oktober 2020 dan Januari 2021) diprakirakan meningkat.

Indikasi peningkatan harga tersebut tercermin dari indeks ekspektasi harga umum (IEH) tiga dan enam bulan mendatang masing-masing sebesar 133,7 dan 157,7, lebih tinggi daripada periode sebelumnya masing-masing sebesar 131,5 dan 156,1.

Responden memperkirakan kenaikan harga tersebut dipengaruhi gangguan distribusi barang dan jasa seiring dengan masuknya musim hujan, kata Onny.

Baca juga: BI catat uang beredar tumbuh melambat pada Juni 2020
Baca juga: Survei BI indikasikan Juni keyakinan konsumen membaik
Pewarta : Ahmad Buchori
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020