KADI: Banyak negara lakukan hambatan impor saat pandemi COVID-19

KADI: Banyak negara lakukan hambatan impor saat pandemi COVID-19

Sejumlah petugas yang menggunakan alat berat bersiap memasukkan garbarata (jembatan penghubung ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang) buatan PT Bukaka Teknik Utama Tbk di dermaga IPC Car Terminal, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (4/8/2020). . ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/app/aww.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Bachrul Chairi mengatakan banyak negara memberlakukan hambatan impor di tengah kondisi pandemi COVID-19 sehingga upaya peningkatan ekspor akan sulit dilakukan.

Sejumlah pasar tujuan ekspor andalan Indonesia seperti AS, China, Singapura dan Eropa yang mengalami kontraksi ekonomi dipastikan akan melakukan perlindungan bagi industri dalam negerinya dan melakukan hambatan impor.

"Artinya pasar internasional berkurang maka upaya semua negara untuk meningkatkan ekspor memang agak sulit," katanya dalam webinar bertajuk "Mengukur Dampak Stimulus Ekonomi Terhadap Kegiatan Ekspor Impor Di Masa Pandemi Covid 19", Kamis.

Bachrul menjelaskan kondisi pandemi COVID-19 telah mengubah pola perdagangan global yang tadinya berpusat di China kini menyebar ke sejumlah negara. Indonesia pun mendapat imbas positif karena mendapat relokasi sejumlah industri.

Pandemi juga disebutnya membuat biaya logistik meningkat. Pasalnya, implementasi prosedur COVID-19 membuat biaya meningkat sementara jumlah barangnya menurun karena daya beli yang juga turun.

"Ini jadi kombinasi yang tidak menguntungkan kita," katanya.

Di sisi lain, lanjut Bachrul, meski Indonesia tergabung dalam sejumlah kesepakatan perdagangan internasional, saat ini banyak negara yang meninggalkan kesepakatan tersebut dan kembali menerapkan hambatan perdagangan.

"Ini tentu akan menyebabkan ancaman baru secara global. Resesi global kemungkinan tidak bisa kita elakkan," imbuhnya.

Selain itu, sejumlah negara juga melakukan pembatasan distribusi di negara mereka sehingga barang impor masuk jadi berkurang. Ada pula sejumlah negara yang melakukan pengetatan dengan penambahan standar-standar tertentu. Artinya, barang impor boleh masuk, namun harus memenuhi syarat yang dipersulit.

"Itu terjadi di pasar global sehingga itu yang menghambat upaya-upaya kita meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui ekspor dan impor," kata Bachrul.

Baca juga: Menko Airlangga: Komoditas ekspor RI berdaya saing tinggi

Baca juga: Pemerintah dorong ekspor buah lokal untuk pemulihan ekonomi

Baca juga: Pemerintah perlu lebih permudah ekspor-impor atasi dampak pandemi


 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020