Asosiasi rajungan gencarkan Gerakan Kembalikan Sebelum 5 Menit

Asosiasi rajungan gencarkan Gerakan Kembalikan Sebelum 5 Menit

Warga memilih rajungan di Pantai Jumiang, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (3/5/2020). ANTARA FOTO/Saiful Bahri/foc.

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) menggencarkan agar kalangan anggotanya dapat melakukan Gerakan Tangkap Kembalikan Sebelum 5 Menit, atau disingkat GTK5.

"Gerakan ini dimaksudkan agar nelayan dapat menerapkan pengembalian rajungan kecil dan/atau bertelur dengan jangka waktu kurang dari 5 menit setelah penangkapan," kata Direktur Eksekutif APRI Hawis Madduppa dalam rilis KKP di Jakarta, Selasa.

Hal itu, ujar dia, untuk mengurangi resiko kematian rajungan dan untuk perikanan rajungan berkelanjutan.

Dengan demikian, lanjutnya, maka GTK5 juga selaras dalam rangka upaya untuk kelestarian dan keberlanjutan perikanan rajungan di Indonesia.

"Rangkaian pelaksanaan program perbaikan perikanan dalam mendukung program pengembangan perikanan rajungan berkelanjutan salah satunya dengan pengembalian stok di alam atau restocking," paparnya.

Terkait pembangunan kelautan berkelanjutan, KKP menargetkan agar 10 persen dari luas perairan Indonesia (setara 32,2 juta hektare) menjadi kawasan konservasi perairan yang termanfaatkan secara berkelanjutan pada 2030.

Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Aryo Hanggono menyebut luas kawasan konservasi perairan Indonesia saat ini telah mencapai 23,34 juta hektare atau setara dengan 7,18 persen dari luas perairan Republik Indonesia.

Aryo memaparkan bahwa hingga Maret 2020, luas kawasan konservasi perairan Indonesia telah mencapai 23,34 juta hektare atau 7,18 persen dari luas perairan Indonesia, sehingga masih dibutuhkan 2,82 persen atau 9,16 juta hektare lagi untuk mencapai target.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia menargetkan 32,5 juta hektare atau 10 persen dari luas perairan Indonesia sebagai kawasan konservasi perairan yang operasional dan termanfaatkan secara berkelanjutan pada tahun 2030.

Lebih lanjut Aryo menjelaskan, meski telah mencapai 23,34 juta hektare hingga saat ini kawasan konservasi perairan yang operasional dan termanfaatkan secara berkelanjutan baru mencapai 9,89 juta hektare.

Ia menyebutkan bahwa untuk mencapai tujuan utama pengelolaan kawasan konservasi perairan ada sejumlah tantangan, di antaranya perencanaan terpadu antara pusat, daerah dan pemangku kepentingan lainnya serta pendanaan berkelanjutan.

Baca juga: KKP kembangkan teknologi pembenihan komoditas rajungan berkelanjutan
Baca juga: KKP genjot ekspor rajungan

 
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020