KKP kembangkan teknologi pembenihan komoditas rajungan berkelanjutan

KKP kembangkan teknologi pembenihan komoditas rajungan berkelanjutan

Pekerja mengangkut rajungan hasil tangkapan nelayan di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (1/7/2020). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/aww.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan teknologi pembenihan komoditas rajungan yang berkelanjutan karena pembudidayaan memiliki tingkat kemungkinan hidup lebih tinggi dibanding hasil tangkapan.

"Bila hanya mengandalkan tangkapan alam, tentu kenaikan produksi sangat bergantung banyak hal. Inovasi melalui teknologi pembenihan dan budidaya menjadi terobosan yang sangat penting. Budidaya juga menjadi solusi untuk menjaga kelestariannya di alam," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.

Ia memaparkan rajungan atau yang dikenal dengan nama dagang Blue Swimming Crab menjadi penyumbang utama PDB sektor perikanan Indonesia bersama dengan udang, tuna-tongkol-cakalang, cumi-sotong-gurita dan rumput laut.

Pasar ekspor rajungan, lanjutnya, terbuka ke beberapa negara seperti Amerika, Australia, Jepang dan Uni Eropa.

"Peluang pasar ekspor dan lokal untuk komoditas rajungan terus meningkat setiap tahunnya. Namun, saat ini kebutuhan pasar ekspor masih sangat tergantung dari hasil tangkapannya di alam, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan eksploitasi berlebih," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP.

Slamet menjelaskan pengembangan budidaya rajungan telah dilakukan sejak 2005 oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dan Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar.

Ia mengungkapkan tingkat kelulushidupan benih rajungan hasil proses pembudidayaan mencapai 30-48 persen dan di tingkat pembesaran berkisar 30-35 persen.

"Ini menjadi dasar utama pengembangan teknologi budidaya rajungan berkelanjutan. Selain itu, hasilnya dapat digunakan untuk restocking benih di alam sehingga menambah populasi rajungan di habitat alaminya semakin meningkat," tutur Slamet.

Slamet mengapresiasi terobosan yang dilakukan Eddy Nurcahyono, perekayasa BBPBAP Jepara, yang berhasil mengembangkan teknologi pembenihan rajungan yang aplikatif bagi masyarakat.

Ia mengutarakan harapannya agar ke depannya, satu per satu tantangan pengembangan budidaya rajungan dapat diselesaikan, seperti belum adanya penetapan kawasan budidaya rajungan, sistem penyediaan benih dari unit perbenihan belum memadai, adanya keterbatasan informasi dan pencatatan pada perikanan skala kecil.

“Strategi kami dalam pengembangan budidaya rajungan, pertama sosialisasi dan adopsi teknologi budidaya. Kedua, kita akan lakukan stock assesment, stock enhancement dan Pengelolaan Perikanan Berbasis Budidaya”, jelas Slamet.

Selain itu, ketiga penetapan kawasan klaster budidaya rajungan dan kawasan suaka induk rajungan melalui restocking. Keempat, revitalisasi dan model perbenihan rajungan, model pengembangan budidaya, selanjutnya kelima melalui diseminasi budidaya oleh UPT sekaligus pengawasan, monev dan evaluasi.

"Untuk itu, kita akan terus bekerjasama dengan Badan Riset dan SDM KKP, perguruan tinggi, asosiasi dan swasta untuk benar-benar mewujudkan budidaya rajungan yang berkelanjutan," ucap Slamet.

Teknologi pembenihan rajungan ini telah dikembangkan melalui diseminasi dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat sehingga akan ada efek ekonominya bagi masyarakat di sekitar pesisir.

Baca juga: Pandemi, KKP tebar benih rajungan untuk ketersediaan stok
Baca juga: KKP harapkan sinergi optimalkan komoditas perikanan unggulan
Baca juga: KKP genjot ekspor rajungan
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020