Bank Mandiri salurkan kredit pelayaran Rp14,1 triliun per Juni 2020

Bank Mandiri salurkan kredit pelayaran Rp14,1 triliun per Juni 2020

Ilustrasi - Kendaraan angkutan barang memasuki kapal di Pelabuhan Roll On Roll Of (RoRo) Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Selama pandemi COVID-19, Pelabuhan RORO menopang distribusi barang dari Jambi ke Batam. ANTARA/Muhamad Hanapi.

Jakarta (ANTARA) - Bank Mandiri telah menyalurkan kredit untuk industri pelayaran total mencapai Rp14,1 triliun per 30 Juni 2020, kata Vice President Commercial Banking 6 Group Sector Transportation PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ferdianto Munir.

“Penyaluran kredit untuk industri transportasi laut secara total Rp14,1 triliun,” kata Ferdianto dalam diskusi daring yang bertajuk “Restrukturisasi Perusahaan Pelayaran di Masa Pandemi COVID-19” di Jakarta, Rabu.

Ferdianto mengatakan jika dilihat dari posisi kredit untuk perusahaan pelayaran secara nasional, Bank Mandiri memiliki kontribusi 25,78 persen.

“Posisi kredit untuk shipping (pelayaran) secara nasional itu Rp54,7 triliun, kami cukup besar Rp14,1 triliun atau 25,78 persen,” katanya.

Rincian kredit untuk industri pelayaran tersebut, di antaranya korporasi Rp1,13 triliun dan komersial Rp12,97 triliun.

Sementara itu, total kredit untuk industri galangan kapal, yakni Rp2,25 triliun di mana korporasi sebesar Rp580 miliar dan komersial Rp1,67 triliun.

Namun, karena adanya pandemi COVID-19, Ia menyebutkan non-performing loan (NPL) atau kredit macet dari angkutan laut nasional pelayaran mengalami peningkatan dari 3,4 persen menjadi 5,7 persen meskipun ada peningkatan kredit dari Rp41,9 triliun menjadi Rp46,9 triliun pada kuartal I-2020.

Adapun, kredit angkutan laut internasional dari Rp8,3 triliun menjadi Rp7,8 triliun dengan NPL dari 0,3 persen menjadi 0,2 persen pada Kuartal I-2020.

Untuk sektor angkutan laut, Ia mengatakan, Bank Mandiri melayani kredit untuk kapal kontainer, tanker, bulk carrier, tug and barge, offshore support, ferry, special wessel, galangan kapan dan port/jetty.

Dalam kesempatan sama, Ketua Yayasan Asosiasi Perusahaan Pelayaran Niaga (INSA) Manunggal Theo Lekatompesy menilai dengan porsi penyaluran kredit Bank Mandiri yang mencapai hampir 30 persen, seharusnya angka portofolio bisa mencapai Rp40-50 triliun.

“Angka portofolio terakhir Rp14 triliun, kalau satu per tiganya total portofolio sekitar Rp45-50 triliun seandainya mewakili samplingnya ini sah 30 persen bisa saja tiga kalinya,” katanya.

Sementara itu, menurut Theo, turn over dari penjualan (sales) industri pelayaran bisa mencapai Rp100 triliun.

“Jumlah penjualan segmen kontainer minimal sekitar Rp18-20 trilun itu hanya kontainer bagaimana kalau ditambah bulk carrier, curah dan lain-lain, jumlahnya bisa 2,5 kali total turn over Rp100 triliun,” katanya.

Adapun, lanjut dia, EBITDA terburuk sekitar 15 persen dari penjualan ditambah depresiasi kira-kira Rp15 triliun.

“Jadi, berapa bank bisa memberi kredit berapa lama nasabah kapal paling lama lima tahun, total limit kapasitas termasuk bunga Rp75 triliun dibandingkan portofolio Mandiri Rp14 triliun, kalau sama dengan sepertiga dari 100 persen maka Rp40 triliun, sehingga masih ada kapasitas sekitar Rp50 persen dari total portfolio yang ada,” katanya.

Baca juga: Bank Mandiri salurkan kredit dari dana pemerintah Rp26,9 triliun
Baca juga: Bank Mandiri salurkan kredit Rp871,7 triliun pada semester I-2020
Baca juga: Bank Mandiri berkomitmen pimpin pasar sindikasi Indonesia

Pewarta : Juwita Trisna Rahayu
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020