10 kampung siaga bencana di Kulon Progo-DIY diaktivasi Mensos

10 kampung siaga bencana di Kulon Progo-DIY diaktivasi Mensos

Menteri Sosial Juliari P. Batubara menetapkan Bupati Kulon Progo Sutedjo sebagai pembina kampung siaga bencana di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (19/8/2020). (FOTO ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo, DIY (ANTARA) - Menteri Sosial Juliari P. Batubara mengaktivasi 10 kampung siaga bencana yang ada di empat kelurahan/kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang melibatkan 1.000 warga.

Mensos Juliari di Kulon Progo, Rabu, mengatakan penanganan bencana, baik dari tahap pencegahan, tahap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, senantiasa membutuhkan sinergi baik antarinstansi pemerintah maupun pemerintah dengan masyarakat.

"Prakarsa dan inisiatif dari masyarakat sangat penting. Karena masyarakat berada di ujung paling depan dalam penanganan bencana," kata Mensos dalam acara Peringatan Hari Kemanusiaan Se-Dunia dan Aktivasi di Kawasan Siaga Bencana (KSB) di Kulon Progo.

Adapun 10 kampung siaga bencana ini tersebar di empat kecamatan, yakni Temon, Galur, Panjatan dan Wates. Empat kecamatan ini memiliki potensi terjadi bencana setiap tahunnya, seperti banjir. Potensi bencana lainnya, yakni tsunami karena berada di kawasan pesisir selatan Jawa.

"Bencana alam merupakan kejadian yang pasti terjadi, kita tidak bisa lepas dari bencana, khususnya bencana alam. Kenapa dipilih Kulon Progo karena letaknya berada di kawasan pesisir selatan pulau Jawa yang memiliki potensi bencana cukup rawan," katanya.

Mensos mengatakan Kemensos akan selalu siap mendukung dan membantu penuhnya, tidak hanya saat terjadi bencana, Kemensos juga siap melakukan mitigasi bencana untuk mencegah dampak kerusakan akibat bencana.

Ia juga menyatakan, Indonesia dibekali sebagai negara rawan bencana. Untuk itu, Kemensos mengedepankan pendekatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat seperti aktivasi kawasan siaga bencana.

"Sampai saat ini, di seluruh Indonesia sudah terbentuk 741 KBS. Harapannya, masyarakat dapat menangani bila terjadi bencana, tanpa harus menunggu relawan datang," demikian Juliari P Batubara.

Baca juga: Mensos: Kader KSB jadi ujung tombak di daerah rawan bencana

Baca juga: BPBD Yogyakarta tingkatkan jumlah sekolah siaga bencana

Baca juga: Sultan: perbaikan infrastruktur pascabencana tunggu laporan kabupaten

Baca juga: Polres di DIY siaga satu bencana


Pewarta : Sutarmi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020