FP UNS ciptakan pupuk organik limbah pewarna

FP UNS ciptakan pupuk organik limbah pewarna

Pupuk alami ciptaan Fakultas Pertanian UNS. (ANTARA/HO/Humas UNS)

Solo (ANTARA) - Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menciptakan pupuk organik dari limbah pewarna alami sebagai bagian dari hasil riset yang dilakukan oleh Program Studi Agroteknologi.

"Produk pupuk organik yang kami hasilkan diberi nama Komfera Semar, yaitu Kompos Indigofera Sebelas Maret," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Program Kemitraan PNBP UNS tahun 2020 Prodi Agroteknologi FP UNS Maria Theresia Sri Budiastuti di Solo, Kamis.

Ia mengatakan pemanfaatan limbah hasil ekstraksi pewarna alami "Indigofera Tinctoria" menjadi pupuk organik tersebut merupakan salah satu kontribusi UNS terhadap masyarakat dalam penanganan limbah yang selama ini hanya dibakar di pinggiran sawah.

Terkait hal itu, pihaknya juga sudah melakukan analisa fisika dan kimia Pupuk Komfera di Environmental Biotechnology Laboratory PT Biodiversitas Bioteknologi Indonesia.

Baca juga: 13 proposal penelitian COVID-19 UNS lolos pendanaan Kemenristek

Baca juga: Dosen UNS sabet ITSF lewat penelitian baterai litium


Ia mengatakan hasil analisa pupuk menunjukkan bahwa pupuk organik limbah ekstraksi tersebut telah memenuhi persyaratan pupuk organik padat berdasarkan peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011.

"Kandungan yang ada dalam pupuk organik limbah ekstraksi ini yaitu C organik 48,43 persen, C/N rasio 15,6, kadar air 48,49 persen, N total 3,26 persen, P total 0,98 persen, K total 1,75 persen, PH 9.22, dan berwarna cokelat kehitaman," katanya.

Sedangkan untuk bahan yang diperlukan untuk membuat pupuk organik tersebut di antaranya bahan limbah, kotoran sapi, dan dedak dengan perbandingan 1:60:10 serta ditambahkan molase 500 ml dan EM4 500 ml untuk 150 kg limbah.

“Kami juga telah melakukan uji coba penggunaan pupuk Komfera sebagai campuran media tanam pada beberapa tanaman sayuran seperti cabai rawit, cabai besar, tomat, terong, sawi, bayam, dan kangkung. Berdasarkan uji coba, tanaman sayuran tersebut dapat tumbuh dengan baik," katanya.

Sementara itu, pihaknya juga telah melakukan sosialisasi produk ini di Desa Puron, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah di mana produk tersebut pertama kali diluncurkan.

"Demonstrasi ini sudah kami lakukan sekaligus sosialisasi produk di desa tersebut," katanya.

Baca juga: Dosen UNS lakukan penelitian minimalisasi preeklampsia

Baca juga: Mahasiswa UNS menemukan alat bantu dengar murah
Pewarta : Aris Wasita
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020