Kemristek dorong percepatan hilirisasi hasil riset dan inovasi

Kemristek dorong percepatan hilirisasi hasil riset dan inovasi

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang juga Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyampaikan pidato saat akan meluncurkan penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Jumat (3/1/2020). Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca tersebut untuk meminimalkan dampak bencana banjir di Jabodetabek melalui redistribusi curah hujan dengan mengurangi instensitas hujan yang turun di Jabodetabek. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan hilirisasi hasil penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan agar bisa segera dimanfaatkan konsumen atau masyarakat.

"Kita ingin mendorong hilirisasi dengan beberapa cara," kata Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro dalam konferensi pers virtual terkait Rapat Koordinasi Nasional Prioritas Riset Nasional Tahun 2020 (Rakornas PRN 2020) di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Menteri: Pemerintah gunakan produk lokal tingkatkan kepercayaan rakyat

Bambang mengatakan ada tiga cara yang dilakukan untuk mendorong percepatan hilirisasi hasil riset dan inovasi, yakni e-katalog khusus untuk inovasi Indonesia, pelibatan perusahaan potensial sebagai produsen hasil riset dan inovasi sejak di hulu, serta pemberian insentif seperti super tax deduction.

Katalog elektronik khusus untuk produk riset dan inovasi Indonesia diluncurkan pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25 pada Senin (10/8).

"Kita sudah meluncurkan e-katalog khusus untuk inovasi Indonesia yang artinya memberikan dorongan kepada pemerintah atau pemakai dalam pemerintah untuk tidak ragu-ragu lagi melakukan pengadaan terhadap hasil inovasi Indonesia ini," kata Bambang.

Baca juga: Menristek: Sinergi 'triple helix' kunci utama penguatan inovasi

Dia menuturkan jika ada permintaan yang cukup besar dari pemerintah di tingkat awal, maka diharapkan skala ekonomi dari perusahaan yang memproduksi hasil inovasi tersebut juga meningkat, biaya produksi per unit bisa turun dan harga makin kompetitif sehingga produk akan bisa lebih dinikmati oleh masyarakat, dan makin banyak perusahaan yang mau melakukan hilirisasi dari produk inovasi tersebut.

Menristek mengatakan penting pelibatan perusahaan-perusahaan yang berpotensi menjadi produsen atau perusahaan-perusahaan yang melakukan hilirisasi masuk lebih jauh ke hulu yaitu mulai terlibat dalam kegiatan riset sehingga produk yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan dapat memenuhi permintaan industri.

"Sehingga produk yang dihasilkan adalah produk yang mereka (perusahaan) harapkan dan mereka siap untuk melakukan hilirisasinya tanpa 'effort' (upaya) yang terlalu berat, dan ini sangat penting bagi perusahaan untuk merasa nyaman dengan produk yang akan mereka produksi," tutur Bambang.

Baca juga: Menristek sebut photovoltaic jadi upaya mitigasi perubahan iklim

Bambang yang pernah menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia mengatakan dengan pemberian insentif, diharapkan semakin banyak perusahaan meningkatkan riset dan pengembangannya di dalam negeri.

"Kita harapkan super tax deduction bisa segera diluncurkan sehingga makin banyak perusahaan yang mengembangkan R&D-nya (riset dan pengembangan) sendiri dan otomatis ini bisa mempercepat proses hilirisasi," ujarnya.

Badan usaha atau perusahaan yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan sekaligus produksinya tidak berpindah dari Indonesia bisa memperoleh insentif pajak atau super tax deduction hingga 300 persen.

Baca juga: Menristek: Biofarma produksi 2 juta alat tes PCR mulai September

 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020