Menristek sebut photovoltaic jadi upaya mitigasi perubahan iklim

Menristek sebut photovoltaic jadi upaya mitigasi perubahan iklim

Tangkapan layar - Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro dalam acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25 yang ditayangkan dalam jaringan diikuti dari Jakarta, Senin (10/8/2020). ANTARA/Tangkapan layar Youtube Institut Teknologi Sepuluh Nopember/pri. (ANTARA/Tangkapan layar Youtube Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan teknologi fotovoltaik (photovoltaic) menjadi salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Menristek Bambang menuturkan pengembangan photovoltaic juga menjadi bentuk tanggung jawab Indonesia dalam upaya mitigasi perubahan iklim dunia.

"Tentunya kami menyambut baik segala upaya untuk meningkatkan teknologi terkait photovoltaic. Kita bisa memulai dari konteks bahwa sebagai negara yang besar dan ekonomi yang terus bertumbuh pastinya kebutuhan listrik di Indonesia akan menjadi sangat dinamis,” ujar Menristek Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Senin.

Hal itu disampaikan Menristek Bambang dalam acara virtual The 2nd Advanced Photovoltaic Technology Workshop 2020.

Photovoltaic merupakan teknologi mengenai penggunaan energi matahari dengan cara mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik menggunakan sel surya.

Baca juga: Honda uji coba kendaraan mikro energi photovoltaic

Menristek Bambang menyambut baik upaya dalam meningkatkan teknologi khususnya photovoltaic.

Kebutuhan listrik yang sangat dinamis di negara besar yang ekonominya terus tumbuh seperti Indonesia menjadi salah satu alasan perlu adanya peningkatan teknologi di bidang kelistrikan.

Teknologi photovoltaic harus terus dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diharapkan dapat menggantikan peran Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) karena PLTD masih menggunakan bahan bakar fosil yaitu solar yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya polusi udara.

"Ketika ada upaya untuk mengurangi 'fossil fuel' (bahan bakar fosil) maka Indonesia juga tentunya harus ikut karena Indonesia, salah satu negara penghasil polusi cukup besar. Apalagi kita adalah tuan rumah dari hutan tropis, salah satu hutan tropis terbesar di dunia. Jadi otomatis Indonesia harus punya tanggung jawab yang serius dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” ujarnya.

Menristek mengatakan pengembangan teknologi harus bisa menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia hari ini, salah satunya PLTD yang biayanya mahal serta tidak ramah lingkungan.

"Paling tidak kita harus upayakan agar teknologi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia ini benar-benar bisa menggantikan peran PLTD, yang kalau saya perhatikan pertama itu mahal harganya, yang kedua diesel/solarnya harus dipastikan tersedia dan juga distribusi diesel/solarnya yang berisiko," tutur Menristek Bambang.

Baca juga: NARI Group Menangkan Kontrak untuk Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Photovoltaic Filipina San Carlos Helios 59MW
Baca juga: Len Industri pasarkan panel surya atap awal 2019


 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020