China bersiap hadapi serangan lanjutan COVID musim gugur-musim dingin

China bersiap hadapi serangan lanjutan COVID musim gugur-musim dingin

Seorang pria yang telah menyelesaikan masa karantina menerima cairan pembersih tangan dari seorang staf di sebuah fasilitas khusus di Beijing, ibu kota China, Selasa (7/7/2020). Orang-orang yang berisiko tinggi terpapar COVID-19 di pasar Xinfadi akan secara bertahap dibebaskan dari karantina. Kelompok pertama yang terdiri dari 5.000 orang lebih akan diizinkan pulang dengan tertib, menurut otoritas Distrik Fengtai. ANTARA FOTO/Xinhua-Peng Ziyang/hp.

Jakarta (ANTARA) - Kota-kota besar di China, seperti Wuhan dan Beijing, sedang menyusun rencana menghadapi gelombang lanjutan serangan COVID-19 pada musim gugur dan musim dingin, meskipun di China saat ini wabah tersebut secara umum terkendali.

Para pakar kesehatan mengingatkan adanya penyebab infeksi yang tidak diketahui, wabah regional akibat kasus impor,  serta serangan ganda COVID dan influenza yang merupakan penyakit musiman.

Pandemi itu akan terus berlanjut hingga musim dingin dan situasinya bisa jadi lebih buruk daripada sebelumnya, demikian peringatan Kepala Epidemiolog Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) Wu Zunyou, dikutip media resmi setempat, Selasa.

Dia memperkirakan masa-masa mencekam di Wuhan pada awal tahun ini tidak akan terulang lagi di China.

Namun, Wu mengingatkan pemerintah China karena masih akan menghadapi dua hal penting. Pertama, wabah yang tidak diketahui penyebabnya seperti di pasar ikan di Wuhan yang muncul kembali di Pasar Induk Xinfadi, Beijing.

Baca juga: China pantau kemungkinan gelombang kedua corona karena kasus impor

Kedua, penyebaran virus secara regional yang disebabkan oleh kasus impor, seperti yang terjadi di Shulan dan Suifenhe, Provinsi Heilongjiang.

Tiga bulan setelah status karantina wilayah (lockdown) Wuhan, Provinsi Hubei, dicabut pada 8 April, pengawasan terhadap COVID-19 terus berlanjut.

Lebih dari 80.000 sampel yang diambil dari masyarakat sekitar pada bulan lalu menunjukkan hasil negatif.

Otoritas di Kota Wuhan mengumpulkan sampel dari swalayan, pasar produk pertanian, dan toilet umum pada 13 Juni.

Ahli pernapasan dari Rumah Sakit Utama Peking University Wang Guangfa mengatakan mayoritas warga China tidak memiliki kekebalan terhadap COVID-19. Karena itu, menurut dia, wabah flu yang biasanya terjadi pada musim gugur dan musim dingin makin menyulitkan pemberantasan COVID-19 gelombang berikutnya.

Baca juga: China laporkan penurunan kasus baru COVID-19, di Beijing nihil

Kota-kota di China harus lebih ketat melakukan pengawasan, harus bisa membedakan antara flu dan COVID-19, dan meningkatkan produksi alat tes COVID-19, demikian saran Wang.

Wakil Kepala Jurusan Kesehatan Masyarakat Peking University Wang Peiyu menekankan pentingnya empat strategi dini, yakni deteksi, laporan, isolasi/karantina, dan perawatan.

"Kalau ada orang yang punya gejala, bawa ke klinik dan lakukan tes asam nukleat sesegera mungkin untuk menghindari infeksi lebih lanjut," ujarnya dikutip Global Times.

Untuk menghadapi kemungkinan serangan gelombang lanjutan, Komisi Kesehatan Wuhan menggelar rapat khusus perawatan kesehatan pada 19 Juni.

Dalam kondisi darurat, Pemerintah Kota Wuhan meminta seluruh lembaga medis mulai September mendatang untuk menyiapkan klinik dan bangsal karantina, menyiapkan material epidemi untuk kebutuhan 30 hari ke depan, serta melatih para personel.

Pemerintah Kota Beijing juga telah melakukan berbagai persiapan menghadapi gelombang baru pada 10 Juli.

Saat ini, di beberapa wilayah di China sedang bersiap menghadapi datangnya musim gugur. 

Baca juga: CanSino China bahas uji coba Tahap III vaksin COVID-19 di LN

Baca juga: China laporkan 19 kasus baru COVID-19, tujuh di Beijing


 

China, Arab berjuang bersama lawan corona

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020