Jadi calon pilot, 10 pemuda Papua-Papua Barat belajar di LIFT Lombok

Jadi calon pilot, 10 pemuda Papua-Papua  Barat belajar di LIFT Lombok

Kepala Sekolah Lombok Institute of Flight Technology (LIFT), Nusa Tenggara Barat (NTB) Captain Abbas Yahya Ali (kiri), Jumat (19/6/2020) di Mataram, menyematkan tanda sebagai peserta didik kepada salah seorang siswa dari Provinsi Papua. (FOTO ANTARA/Awaludin)

Mataram (ANTARA) - Sebanyak 10 pemuda yang berasal dari Provinsi Papua dan Papua Barat belajar menjadi calon pilot di Lombok Institute of Flight Technology (LIFT) atau Sekolah Teknologi Penerbangan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) agar nantinya bisa mengisi peluang kerja di sektor penerbangan pesawat.

"Sebanyak 10 orang dari Papua dan Papua Barat itu merupakan bagian dari 22 peserta didik yang sedang belajar menjadi calon pilot di sekolah ini," kata Kepala Sekolah LIFT Captain Abbas Yahya Ali, usai menerima kunjungan Ketua Ikatan Olahraga Senam Kreatif Indonesia (IOSKI) Provinsi NTB, H Sri Yulianti, di Mataram, Jumat.

Ia menyebutkan anak-anak dari Papua dan Papua Barat tersebut bisa masuk di LIFT karena bantuan dari pemerintah daerah setempat yang terus melakukan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Seluruh anak-anak papua tersebut menjalani proses belajar-mengajar selama 18 bulan. Mereka bergabung bersama peserta didik lainnya yang berasal dari Jakarta, Sulawesi, Medan, dan Pulau Jawa.

Selaian itu, ada dari Australia satu orang, Amerika Serikat satu orang, Korea Selatan satu orang, dan dari Arab Saudi dua orang.

"Anak-anak dari Papua dan Papua Barat itu sangat bersemangat untuk belajar menjadi pilot. Mereka juga sudah mahir berbahasa Inggris karena sebelumnya diberikan pendidikan bahasa Inggris oleh pemerintah daerahnya," katanya.

Ke depan, ia berharap agar ada anak-anak NTB yang bisa masuk sekolah di LIFT karena peluang menjadi pilot sangat terbuka lebar. Apalagi pariwisata daerah ke depannya diperkirakan akan semakin maju, seiring berkembangnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

"Sekarang saja, saya diminta oleh jejaring saya untuk mencari 30 orang calon pilot terbaik lulusan LIFT karena sudah diakui kualitasnya. Tapi, saya tidak bisa menyanggupi karena saat ini peserta didik saya hanya 22 orang," kata Abbas Yahya Ali.

Ketua IOSKI Provinsi NTB Hj Sri Yulianti, juga berharap agar para generasi muda NTB bisa masuk di LIFT, sehingga bisa juga mengisi peluang kerja menjadi seorang penerbang pesawat.

Isteri Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu juga mengaku kaget karena baru mengetahui ada sekolah penerbangan di daerahnya, namun semua peserta didiknya dari luar daerah dan tidak ada satu pun dari NTB.

"Saya akan coba diskusikan dengan bapak (gubernur) mengenai masalah ini. Nanti mungkin biayanya bisa disubsidi dari pemerintah daerah," kata Sri Yulianti.

LIFT resmi beroperasi di wilayah NTB sejak November 2010. Sebelumnya berkantor di Jl Adi Sucipto, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, atau di bekas Bandar Udara Selaparang Mataram, ketika masih berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) yang kepemilikan sahamnya sebanyak 51 persen milik pengusaha Indonesia dan 49 persen milik konsorsium pengusaha Hong Kong yakni Castel Mark Limited.

Namun setelah sahamnya 100 persen dimiliki orang lokal, sekolah tersebut berkantor di Jalan Dukuh Saleh Nomor 16 Pejeruk Sejahtera, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

LIFT satu-satunya sekolah penerbangan di Indonesia yang menggunakan pesawat Liberty XL2 untuk melatih siswa calon pilot. Jumlah pesawat yang dimiliki saat ini sebanyak empat unit, tapi hanya tiga yang dioperasikan penuh.

Baca juga: Pemkab Jayawijaya biayai penduduk asli sekolah pilot

Baca juga: Sekolah penerbangan akan beroperasi di Biak

Baca juga: Dubes Tantowi bangga putri Papua jadi pilot

Baca juga: Putra Supiori-Papua ikut pendidikan sekolah pilot di Bogor

Baca juga: Dua pemuda Papua lulus sekolah penerbang
Pewarta : Awaludin
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020