Pelaku ekonomi kreatif ikuti perilaku konsumen, kata pakar

Pelaku ekonomi kreatif ikuti perilaku konsumen, kata pakar

Ilustrasi-Pelaku ekonomi kreatif di Kota Solo. (ANTARA/Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Pakar Ekonomi Kreatif dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Ahmad Adib mengatakan pelaku ekonomi kreatif bisa mengikuti perilaku konsumen untuk mengembangkan usahanya.

"Orientasinya diharapkan bisa mengikuti perilaku konsumen sehingga bisa memenuhi kebutuhan primer konsumen," kata Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS Surakarta tersebut di Solo, Senin.

Apalagi pada masa pandemi COVID-19 ini, dikatakannya, sejumlah sektor ekonomi merasakan dampaknya secara langsung. Bahkan, akibat kondisi ini, menurut dia, banyak sektor bisnis yang terpaksa diubah menjadi daring, di antaranya konser musik, kompetisi, liga, dan pameran.

Baca juga: Kemenparekraf dorong UMKM manfaatkan bantuan insentif pemerintah

Bahkan, akibat kondisi tersebut banyak orang yang mengubah pola konsumsinya. Jika sebelum pandemi konsumen lebih banyak membeli sesuatu berdasarkan keinginan, untuk saat ini hanya berdasarkan kebutuhan.

"Mereka mengubah pola konsumsi dari nonesesial ke esensial dan dari emosial karena hanya untuk memenuhi gaya hidup menjadi rasional, yaitu karena manfaat," katanya.

Menurut dia, untuk bisa mempertahankan usahanya di masa pandemi COVID-19 ini, pelaku ekonomi industri kreatif baru maupun lama bisa membekali pengetahuan manajerial terutama untuk "start up", rencana bisnis, "visual branding", dan komunikasi pemasaran.

"Ini sangat diperlukan dan menjadi tantangan serta peluang bagi pelaku ekonomi industri kreatif," katanya.

Baca juga: Industri pariwisata didorong lakukan "remodelling" bisnis

Ia mengatakan peluang tersebut termasuk bekerja sama dengan sesama pengusaha, koperasi, asosiasi, bahkan lembaga keuangan mengingat pelaku ekonomi kreatif akan kesulitan jika berjalan sendiri.

Di sisi lain, dikatakannya, peran pemerintah juga sangat diperlukan untuk menyiapkan industri kreatif dalam menghadapi kenormalan baru. Selain memberikan modal berupa pendanaan, menurut dia, pemerintah juga dapat membekali modal berupa pola pikir, ilmu, konsep, strategi, dan kemampuan baik "hard skill" maupun "soft skill".

"Target pemerintah tidak hanya mengeluarkan dana berapa dan untuk berapa orang tetapi juga keberhasilan dan perkembangan usahannya untuk keberlanjutan sebagai keluarga mandiri secara ekonomi. Sebenarnya situasi industri kreatif di Indonesia sudah mulai baik dan berkembang apalagi di era Jokowi bidang ekonomi dan industri kreatif diberi ruang tersendiri. Paling tidak masyarakat terutama generasi milenial di Indonesia mulai paham dan ikut berperan," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020