Sekolah Perempuan Babel didik IRT bermedsos tekan perceraian

Sekolah Perempuan Babel didik IRT bermedsos tekan perceraian

Ketua Sekolah Perempuan "Sekutum Melati" Provinsi Kepulauan Babel, Melati Erzaldi. ANTARA/Aprionis/pri.

Pangkalpinang (ANTARA) - Sekolah Perempuan Sekutum Melati Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan mendidik ibu rumah tangga (IRT) menggunakan media sosial secara benar dan bijak, guna menekan angka perceraian yang tinggi di pulau penghasil timah itu.

"Saat ini angka perceraian di Bangka Belitung cukup tinggi dan salah satu pemicunya istri atau suami tidak menggunakan medsos secara benar serta bijak," kata Ketua Sekolah Perempuan "Sekutum Melati" Provinsi Kepulauan Babel, Melati Erzaldi di Pangkalpinang, Senin.

Ia mengatakan, meskipun pendidikan bermedsos bagi ibu rumah tangga produktif di sekolah perempuan tidak dibahas secara detail, namun demikian para IRT tetap dilakukan pembinaan, pendampingan agar mereka dapat berprilaku sebagai istri dan ibu untuk anaknya.

"Pendidikan bermedsos ini penting dan kita akan masukkan ke dalam modul pembelajaran IRT di sekolah perempuan ini," ujarnya.

Baca juga: Penggunaan medsos memicu perselisihan berujung perceraian di Solok
Baca juga: Media sosial picu perceraian di Bengkulu Selatan


Menurut dia medsos ini merupakan salah satu tantangan bagi para istri, suami dan anak untuk lebih bijak menggunakan informasi teknologi dengan baik dan benar, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti perceraian, masalah hukum dan lainnya.

"Mudah-mudahan dengan adanya sekolah ini masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial ini dalam mencari ilmu bermanfaat bagi peningkatan ekonomi keluarga," katanya.

Kepala Sekolah Perempuan Provinsi Kepulauan Babel, Muslim Elhakim mengatakan sekolah ini yang bermakna "Sekolah Untuk Perempuan Jadi Mandiri dan Terlatih" ini merupakan pilot project yang berada di Desa Rukam, Bangka dan Jelutung II, Bangka Selatan.

“Pertimbangan pemilihan dua desa tersebut berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Ekonomi, dan Indeks Kesehatan yang masih rendah. Seperti di Desa Jelutung II, hanya 8% dari 1.492 perempuan usia produktif (15-64 tahun) yang bekerja.

"Sekolah Perempuan ini hadir sebagai wadah persemaian perempuan-perempuan di dua desa tersebut agar menjadi mandiri, memiliki karakter, dan jiwa wirausaha yang dapat membantu keluarga,” ungkapnya. 

Baca juga: Kementerian PPPA minta masyarakat gunakan medsos secara bijak
Baca juga: Pengguna medsos harus banyak tebarkan konten positif


 
Pewarta : Aprionis
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020