Tebuireng setelah kepergian Gus Sholah

Tebuireng setelah kepergian Gus Sholah

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah semasa hidup. (HO/ANTARA FOTO/Syaiful Arif)

Surabaya (ANTARA) - Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang, Jawa Timur, sejak didirikan oleh KH Hasyim Asyari di tahun 1899, banyak melahirkan tokoh yang pemikirannya sangat berpengaruh di Tanah Air.

Sementara suasana duka masih terasa melekat setelah kepergian KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah.

Sabtu, 8 Februari 2020, tepat tujuh hari pengasuh Ponpes Tebuireng yang akrab disapa Gus Sholah itu, wafat.

Gus Sholah wafat pada Ahad (2/2) sekitar pukul 20.55 WIB di RS Harapan Kita Jakarta setelah menjalani operasi penyakit jantung.

Gus Sholah merupakan pengasuh Pesantren Tebuireng yang ketujuh. Dia memimpin mulai 2006 hingga 2020, sejak generasi sang kakek KH Hasyim Asyari (1899 hingga 1947).

Gus Sholah adalah adik kandung mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Ia lahir di Jombang pada 11 September 1942 dari pasangan suami istri, KH Wahid Hasyim dan Hj Solichah.

Sejumlah tokoh nasional bersama ribuan pelayat menghadiri pemakaman pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid. 

Beberapa tokoh nasional yang hadir di pemakaman Gus Sholah pada Senin sore itu antara lain pengacara kondang Hotman Paris, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, yang juga Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri.

Tampak juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, mantan Menteri Pendidikan yang saat ini menjabat Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beserta sejumlah tokoh lainnya.

Setelah sepekan, peziarah tak berhenti berdatangan ke pemakaman yang berada di dalam kompleks ponpes terbesar di wilayah Kabupaten Jombang tersebut.

Pihak ponpes mencatat jumlah peziarah mencapai 7.000 orang per hari yang datang bergelombang terhitung selama enam hari terakhir.

Para peziarah tersebut tidak hanya dari kalangan masyarakat yang datang dari berbagai daerah, melainkan juga para pejabat dan tokoh masyarakat.

Seperti terlihat pada Sabtu (8/2), terdapat rombongan pengurus Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Partai Nasdem Wilayah Jawa Timur, selain juga rombongan pejabat dari Bank Indonesia yang hadir di antara ribuan peziarah.

Tepat saat tujuh hari usai wafatnya Gus Sholah, ribuan warga serta santri dari Jombang dan sekitarnya ikut dalam kegiatan tahlil dan doa bersama.

Beberapa pejabat hadir, di antaranya mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Zuhri, budayawan Emha Ainun Najib atau akrab disapa Cak Nun.

"Acara digelar setelah Shalat Isya di Masjid Pesantren Tebuireng, Jombang, bahkan jamaah meluber hingga luar area masjid," kata salah seorang pengurus Ponpes Tebuireng, Teuku Azwani.

Bukan hanya jamaah putra, jamaah putri juga banyak yang hadir. Mereka duduk di tempat duduk yang sudah disediakan oleh pengurus pesantren di bawah tenda.

Baca juga: Warga dan santri hadiri peringatan tujuh hari wafatnya Gus Sholah

Baca juga: ACT berikan layanan makan gratis peziarah Gus Sholah

Baca juga: Gus Kikin dikabarkan gantikan Gus Sholah di Pesantren Tebuireng


Ponpes tertua

Ponpes Tebuireng Jombang adalah salah satu yang tertua dalam sejarah lembaga pendidikan Islam Indonesia.

KH Hasyim Asyari mendirikannya di tahun 1899 setelah pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka di Makkah, Arab Saudi.

Beliau pula yang mendirikan organisasi massa (ormas) Islam terbesar Nahdlatul Ulama. Namanya hingga kini abadi sebagai pahlawan nasional.

Konon, dusun di lokasi Ponpes Tebuireng yang berdiri sampai sekarang, dulunya adalah sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran, serta berbagai perilaku barbar lainnya di wilayah Kabupaten Jombang.

Hasyim Asyari bersama santri-santrinya kemudian secara bertahap berhasil mengubah pola kehidupan masyarakat dusun tersebut dari semula berperilaku buruk menjadi lebih baik.

Seiring perubahan zaman, pondok pesantren ini banyak melahirkan tokoh yang pemikirannya sangat berpengaruh di Tanah Air.

Sebutlah salah satunya adalah Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur yang merupakan putera dari Menteri Agama pertama RI Wahid Hasyim dan tak lain adalah cucu Hasyim Asyari.

Perjuangan Gus Dur yang semasa hidupnya menanamkan pluralisme di Indonesia sangat jelas diteruskan oleh adik kandungnya Gus Sholah, yang wafat pada 2 Februari lalu.

Niscaya tokoh-tokoh berpengaruh lainnya masih akan bermunculan dari para santri yang saat ini sedang menuntut ilmu di Ponpes Tebuireng Jombang, begitu menurut penilaian para politisi yang duduk di kepengurusan DPP dan DPW Jawa Timur Partai Nasdem saat dikonfirmasi usai bersilaturahim dengan Keluarga Besar Hasyim Asyari di sela bertakziah ke makam Gus Sholah.

"Tadi saya dengar sendiri dari Gus Kikin, betapa suksesi di Ponpes Tebuireng sudah dipersiapkan sejak dini. Jadi kami yakin Tebuireng ke depan, sepeninggal Gus Sholah, akan tetap berjaya dan terus mengembangkan nila-nilai pendidikan, moral dan kebangsaan," ujar Ketua DPP Partai Nasdem Bidang Media dan Komunikasi Publik Charles Meikyansah.

Baca juga: Dubes AS sampaikan belasungkawa atas meninggalnya Gus Sholah

Baca juga: Khofifah ungkap sejumlah pesan Gus Sholah

Baca juga: Sejumlah tokoh nasional hadiri pemakaman Gus Sholah


Santri berkualitas

Gus Kikin adalah sapaan akrab KH Abdul Hakim Mahfudz. Cicit KH Hasyim Asyari itu dipercaya sebagai Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang yang telah ditunjuk semasa Gus Sholah masih hidup melalui musyawarah keluarga yang dirasa sangat demokratis di tahun 2016.

"Saya sebelumnya adalah Wakil Gus Sholah, yaitu sebagai Wakil Pengasuh Ponpes Tebuireng. Sekarang saya dipercaya untuk menggantikan beliau," ucapnya saat dikonfirmasi di sela peringatan tujuh hari wafatnya Gus Sholah di Jombang, Sabtu.

Di raut wajahnya terpancar optimisme bahwa ke depan mampu mencetak santri-santri Tebuireng yang berkualitas seperti Gus Dur dan Gus Sholah lainnya yang akan selalu mengembangkan nilai-nilai pendidikan, moral dan kebangsaan di negeri ini.

"Sebetulnya garis kurikulum pendidikan yang kita jalankan di Ponpes Tebuireng ini memang sudah diletakkan oleh pendiri KH Hasyim Asyari. Kita akan melanjutkan itu terutama di pendidikan, kemudian bagaimana menetapkan moral dan akhlak para santri. Itu yang sekarang kita angkat kembali, terutama bagaimana anak-anak harus ditingkatkan akhlaknya dan mengasah kebangsaannya," katanya.

Sebagaimana Gus Kikin telah dipersiapkan untuk menggantikan Gus Sholah sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng sejak 2016, dia kini siap mengasah santri-santrinya agar ke depan dapat memberi pengaruh positif bagi masyarakat Indonesia yang lebih baik.*

Baca juga: Komunikonten: Gus Sholah mandiri

Baca juga: Din: Gus Sholah tokoh pemersatu

Baca juga: Gubernur Jatim sambut kedatangan jenazah Gus Sholah
Pewarta : Fiqih Arfani/Hanif Nashrullah
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020