Sistem EWS BPPT pantau banjir dan longsor dukung kesiapsiagaan bencana

Sistem EWS BPPT pantau banjir dan longsor dukung kesiapsiagaan bencana

Sejumlah warga beristirahat di tepian Bengawan Solo tempat peringatan dini banjir di Desa Ledokwetan, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Rabu (6/2). (Slamet Agus Sudarmojo.) (Slamet Agus Sudarmojo./)

Jakarta (ANTARA) -

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengembangkan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) banjir dan longsor untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi bencana.

"Kita sudah pernah membuat alat deteksi banjir tapi dalam hal ini permintaan seperti dari badan pengelola sungai," kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yudi Anantasena kepada ANTARA, Jakarta, Selasa.

Sistem peringatan dini banjir (Flood Early Warning System/FEWS) berbasis curah hujan dan level ketinggian muka air untuk meminimalkan dampak korban jiwa dan kerugian harta benda akibat kejadian. Teknologi peringatan dini banjir ini ditempatkan di lokasi rentan banjir dengan teknologi Telemetri AWLR menggunakan SMS Gateway atau komunikasi data SMS.

Bagian penting FEWS terdiri dari panel surya, penakar hujan, sensor tinggi muka air sungai (sonar), panel instrumen data loger, GSM model, aki dan penyimpan data. Sensor menangkap perubahan tinggi muka air, lalu data digital mengenai informasi tinggi muka air itu dikirimkan dalam jaringan melalui SMS Gateway kepada stasiun penerima.

FEWS ini dapat memberikan informasi seketika (realtime) secara online berbasis SMS Gateway. Alat ini dapat dikendalikan dari jarak jauh. Alat ini dapat melakukan pemantauan data curah hujan dan ketinggian air sungai secara berlanjut. Alat ini menggunakan catu daya mandiri dengan solar cell.

Sementara untuk deteksi longsor, BPPT telah mengembangkan Landslide Early Warning System (LEWS) yang melakukan pemantauan gerakan tanah dengan dukungan sensor dan telemetridata berbasis radio dan SMS.

Teknologi sistem peringatan dini longsor dipasang di lokasi rentan gerakan tanah (tanah longsor) dan padat penduduk. Saat ini, lokasi pemasangan LEWS berada di Kampung Jati Radio, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Selain itu LEWS ini juga pernah ditempatkan di Kabupaten Garut, Tasikmalaya dan Majalengka.

Dua sensor dipasang di tebing di Kabupaten Bandung Barat karena daerah itu termasuk wilayah yang rentan longsor dan banyak rumah warga di bawahnya. Sensor itu dapat mendeteksi gerakan tanah dari dalam yakni memantau bidang gelincir karena terpasang hingga kedalaman beberapa meter sampai mencapai bidang gelincir yaitu daerah antara lapisan tanah dengan batuan di bawahnya.

"Kita melakukan pemboran ke bawahnya, kita lihat pergerakan di bidang gelincirnya," tuturnya.

Setelah sensor mendeteksi sab menangkap pergerakan tanah di bidang gelincir, maka data informasi gerakan tanah itu ditransmisikan ke motherboard di stasiun penerima. Jika ada gerakan tanah yang berpotensi longsor maka stasiun penerima akan langsung memberikan peringatan kepada masyarakat dengan bunyi alarm melalui sirene dan bahkan memberikan peringatan dalam bahasa Sunda.

Dibanding alat lain yang melihat gerakan di permukaan tanah, alat LEWS buatan BPPT memiliki keunggulan yakni dapat membaca gerakan tanah di kedalaman beberapa meter karena terpasang sampai ke bidang gelincid sehingga dapat memberikan informasi yang lebih akurat tentang potensi longsor.

Baca juga: BPBD Bantul: Sistem peringatan dini banjir dan longsor berfungsi baik

Baca juga: Sistem peringatan dini banjir rob BMKG jadi percontohan internasional


***3***
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 1970