Edhy Prabowo mengaku diminta tangani sampah plastik Labuan Bajo

Edhy Prabowo mengaku diminta tangani sampah plastik Labuan Bajo

Dokumentasi - Warga mendorong sampannya keluar dari muara Sungai Air Hitam Laut yang tercemar sampah plastik di Tanjungjabung Timur, Jambi, Selasa (22/10/2019). Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan jumlah timbunan sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dengan 15 persen diantaranya merupakan sampah plastik yang sebagiannya belum dikelola dan terbuang ke perairan. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengaku diminta untuk menangani masalah sampah plastik di Labuan Bajo, NTT.

Edhy mengungkapkan hal tersebut seusai rapat koordinasi penanganan sampah laut yang dipimpin Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Kamis.

"Kami sendiri, KKP, ditugaskan di Labuan Bajo, yang sampah seharinya mencapai 8-12 ton, menumpuk di tempat pembuangan akhir. Kita pikirkan apa harus dihancurkan atau didaur ulang, ini teknisnya sedang dibahas detail karena butuh waktu," katanya.

Edhy mengatakan pihaknya akan mengalokasikan anggaran pada 2020 dalam upaya penanganan sampah plastik itu. Namun, ia tak merinci besarannya.

"Anggaran kita cukuplah, sekitar Rp6,5 triliun dari APBN itu sebagiannya disisihkan ke laut bisalah," ujarnya.

Politisi Partai Gerindra itu menjelaskan segenap kementerian dan lembaga juga akan dilibatkan untuk penanganan masalah sampah plastik itu.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga dimintai masukan agar bisa mengidentifikasi sungai-sungai yang bermuara ke laut dan membawa sampah ke lautan.

"Kita juga tidak cuma (aksi) fisik tapi juga kebudayaan agar tidak buang sampah ke laut, apapun, plastik, beling kaca itu agar dikembalikan ke tempatnya. Intinya agar sampah di laut cepat selesainya," katanya.

Edhy mengatakan kementeriannya juga punya program vokasi di pesisir untuk membina nelayan agar bisa memproses sampah sehingga tak mencemari laut.

Ia juga ingin agar alat-alat pengolahan sampah seperti insinerator bisa direplika dan diperbanyak.

"Kita juga kalau bisa bangun insinerator kecil di mulut-mulut sungai kenapa tidak. Kami punya program vokasi di pesisir, tidaksemua nelayan itu mungkin bagian jasa. Maka kita bantu dengan program alat daur ulang dan pemprosesan sampah. Semua yang berhubungan dengan laut harus ikut membantu soal sampah ini," kata Edhy.

Baca juga: Sebanyak 0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia

Baca juga: Menteri Edhy jajaki kerja sama dengan Prancis atasi sampah di laut

Baca juga: Legislator desak pemerintah serius atasi sampah di lautan


 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019