Atasi stunting, Bangka bentuk pos penting mapan sehat

Atasi stunting, Bangka bentuk pos penting mapan sehat

Pemberian makanan tambahan di Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Bogor, untuk penambahan gizi bayi sebagai upaya penanganan stunting. ANTARA/HO.TP2AK Sekretariat Wakil Presiden

Sungailiat, Bangka (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, membentuk pos penting mapan sehat sebagai pusat edukasi stunting bagi ibu-ibu dalam pemberian pola asuh kepada anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, dr. Then Suyanti di Sungailiat, Kamis mengatakan, dibentuknya pos penting mapan sehat di lokus stunting merupakan proyek perubahan sebagai sarana pengajaran bagi ibu-ibu mencakup pemberian makanan berimbang serta pola pengasuh yang benar kepada anak-anaknya.

"Pos penting mapan sehat berlangsung selama 12 hari atau sampai ibu-ibu yang terlibat benar-benar dinyatakan memahami mengenai cara mengasuh anak termasuk pemberian makanan gizi berimbang," jelasnya.

Baca juga: Menko PMK ingatkan pentingnya 1.000 hari pertama saat rakornas
Baca juga: Nila Moeloek: Indeks keluarga sehat Indonesia masih rendah


Sementara penanganan kasus stunting melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) kata dia, dianggap sudah mencukupi dan merata, namun masih didapatkan kendala di lapangan dimana anak yang stunting tidak mau diberi makanan tambahan.

"Kendala ini yang kami edukasikan kepada ibu-ibu supaya bisa memberikan makanan tambahan kepada anak-anaknya," katanya.

Dikatakan, pos penting mapan sehat direncanakan akan dibangun merata di semua desa yang ditetapkan lokus stunting.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bangka fokus menangani kasus stunting meskipun tercatat sebagai daerah yang berhasil menekan stunting di bawah angka standar nasional.

Baca juga: Menkes Terawan tegaskan stunting dan JKN jadi perhatian di HKN
Baca juga: Akademisi: Pemberian gizi tepat dapat cegah kekerdilan sejak dini


Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdes) tahun 2018, angka stunting di Kabupaten Bangka sebesar 30.8 persen, angka tersebut berhasil diturunkan hingga mencapai di bawah 20 persen pada tahun 2019.

"Keberhasilan menangani kasus stunting hingga di bawah standar target nasional sebesar 28 persen, menunjukkan keseriusan pemerintah daerah menangani persoalan kasus ini," jelasnya.

Penanganan stunting harus dilakukan dengan cara intevensi sensitif dan spesifik, dimana dalam penanganannya harus dilakukan bersama-sama atau lintas sektor.

Baca juga: Hanya enam kabupaten/kota yang berkategori tidak "stunting"
Baca juga: Anak susah makan diberi perhatian khusus agar terhindar stunting
Pewarta : Kasmono
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019