Bogota (ANTARA) - Menteri Pertahanan Kolombia Guillermo Botero, Rabu (6/11), mengatakan dirinya akan mundur di tengah tekanan politik yang memuncak atas dugaan pembunuhan di luar hukum dan ancaman bahwa Kongres dapat memaksanya lengser.

Pengusaha berusia 71 tahun itu telah dihantam dengan berbagai skandal. Pekan ini, seorang senator menuduhnya menyembunyikan informasi bahwa anak-anak tewas dalam serangan pengeboman baru-baru ini, yang ditargetkan terhadap pembangkang anggota pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

Botero berpendapat bahwa operasi itu sah dan militer tidak menyadari ada anak di bawah umur di kamp tersebut. Delapan anak diyakini tewas.

"Sudah tugas saya sebagai menteri pertahanan membaca dengan tepat iklim politik, karena itulah saya memutuskan untuk mengundurkan diri," kata Botero dalam surat, yang diunggah ke Twitter oleh kementerian.

Sejumlah oponen mengatakan dugaan pembunuhan dua mantan kombatan FARC oleh militer dan pelanggaran HAM, yang tampak semakin marak, juga menunjukkan bahwa Botero tidak layak atas jabatannya.

Pemerintah pada September terpaksa mempertahankan laporan militer, yang katanya membuktikan bahwa pemerintah Venezuela mendukung kelompok gerilyawan dan pengedar narkoba, setelah sejumlah pejabat mengakui laporan itu memuat foto-foto tak dikenal yang diambil oleh media di Kolombia, buka Venezuela. 

Partai sayap kiri dan kelompok sentris yang sebelumnya mendukung Botero mengatakan mereka akan mendukung mosi tidak setuju terhadapnya di Kongres. Mosi tersebut akan mengharuskan pemerintah sayap kanan Presiden Ivan Duque memberhentikan Botero. 

Sumber: Reuters

Baca juga: Pemerintah selidiki Guaido terkait fotonya dengan anggota geng narkoba

Baca juga: Uni Eropa cabut FARC dari daftar hitam teroris

Baca juga: Pemberontak Kolombia serahkan ribuan senjata

 

Militer Kolombia Serang Markas ELN

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2019