PBNU: Hari Santri momentum penguatan pendidikan karakter

PBNU: Hari Santri momentum penguatan pendidikan karakter

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini, di Kantor PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira)

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  HA Helmy Faishal Zaini  mengatakan peringatan Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober 2019 merupakan momentum untuk mengimplementasikan dan penguatan pendidikan karakter bagi generasi bangsa.

"Pertama, dalam bidang pendidikan pemerintah harus mengutamakan pembangunan manusia yang menitikberatkan pada pendidikan karakter," kata diai melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Penerapan pendidikan berkarakter harus diseleraskan dengan memberikan perhatian lebih kepada pondok pesantren yang ada di seluruh Tanah Air. Sebagai basis tempat pertumbuhan Islam moderat, PBNU menilai keberadaan pesantren sampai saat ini masih belum mendapatkan tempat strategis di mata negara.

Baca juga: Wali Kota Pariaman: Santri bantu wujudkan kota wisata berbasis Islami

Selain menyarankan penguatan pendidikan karakter, PBNU berpandangan pembangunan manusia berbasis pada nilai-nilai moderatisme juga diperlukan oleh masyarakat.

"Langkah ini bisa ditempuh dengan jalan melihat kembali postur kurikulum dalam pendidikan," ujar dia.

Lebih jauh, Helmy Faishal Zaini menyebut pendidikan keagamaan secara seksama dan cermat serta menekankan peningkatan akhlakul karimah, harus menonjolkan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Pengamat: Pesantren berperan penting ajarkan Islam rahmatan lil alamin

Momentum Hari Santri 2019, Helmy Faishal juga menyatakan para santri di Tanah Air berkomitmen untuk mengawal dan merawat pembangunan negeri melalui nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.

Hari Santri bukanlah milik Nahdlaul Ulama (NU) saja atau organisasi masyarakat (ormas) tertentu. Namun, semua golongan harus merasa memilikinya guna mengimplementasikan cita-cita membangun bangsa yang maju, bermartabat, serta berperadaban mulia

"Maka momentum peringatan Hari Santri 22 Oktober ini marilah kita jadikan sebagai tonggak bagi kita semua bersatu padu menyongsong kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat," katanya.

Terpisah, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS), Nevi Zuairina, mendorong pemerintah pusat memperbanyak hafiz atau penghafal Al Quran untuk memperkokoh karakter anak yang agamis dan berakhlak mulia sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

"Momen Hari Santri ini harus dijadikan pemerintah untuk mendukung upaya memperbanyak para penghafal Al Quran," kata legislator asal daerah pemilihan Sumatera Barat (Sumbar) II itu.

Baca juga: Hari Santri amanatkan sebar Islam kasih sayang
Baca juga: Penyapu jalan Semarang berbusana ala santri pada Hari Santri
Baca juga: Anggota DPR dorong pemerintah perbanyak penghapal Al Quran
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019