Penerima pelatihan RISET-Pro didorong kembangkan inovasi dalam negeri

Penerima pelatihan RISET-Pro didorong kembangkan inovasi dalam negeri

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti. ANTARA/Humas Kemenristekdikti/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendorong para alumni yang menerima pelatihan RISET-Pro untuk berpartisipasi dalam pengembangan inovasi di perusahaan dalam negeri.

Kami berharap anda berkontribusi inovasi penelitian yang nanti kami biayai sebagian dan sebagian anda bisa kerja sama dengan perusahaan yang perusahaan itu kalau melakukan penelitian bisa dapat tax deduction sampai 300 persen. Masalahnya, perusahaan itu bisa betulan melakukan penelitian atau tidak siapa yang tahu. Siapa yang mensupervisi? Tentu bapak Ibu sekalian harus ikut di dalamnya, jelas Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (SDID) Ali Ghufron Mukti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Ali memotivasi seratus peneliti dan perekayasa teknologi yang sudah mendapatkan beasiswa pendidikan dan pelatihan non gelar dari program RISET-Pro 2013 hingga 2020 dalam Simposium SDM Iptek Kelas Dunia Capacity Building untuk Peningkatan Daya Saing Global di Jakarta pada Rabu (9/10).

Baca juga: Kemristekdikti: penguatan karakter Pancasila dilakukan semua profesi

Ali mengatakan peningkatan kualifikasi peneliti dan perekayasa di Tanah Air kerap terkendala oleh keterbatasan anggaran. Adapun salah satu kebutuhan yang mendesak adalah melepaskan ketergantungan pendanaan riset pada APBN yang mendominasi lebih dari 75 persen sumber pendanaan riset di Indonesia.

Dengan adanya program karyasiswa Riset-Pro, diharapkan para alumni memperkuat kapasitas keilmuan dan mengembangkan jejaring risetnya untuk dapat memperluas sumber pendanaan risetnya, dari berbagai sumber pendanaan dari luar negeri, dalam negeri, hingga swasta, jadi tidak hanya bergantung pada lembaganya sendiri atau Kementerian, terangnya.

RISET-Pro juga membiayai pelatihan bagi peneliti dalam rangka mengembangkan Pesawat N219 karya anak bangsa.

Baca juga: Menristekdikti: Indonesia pintu gerbang teknologi di Asia Tenggara

Untuk meningkatkan kualifikasi serta kapasitas para peneliti dan perekayasa, sejak tahun 2013, Kemristekdikti bersama Bank Dunia bekerja sama dalam Program Research and Innovation in Science and Technology Project (RISET-Pro).

Program ini memiliki empat komponen yang saling berkaitan, yakni peningkatan kerangka kerja kebijakan inovasi dan kinerja lembaga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan sistem pendanaan riset, beasiswa program gelar dan non-gelar, dan dukungan manajemen untuk seluruh komponen.

Selama periode 2013 hingga 2018, Program Riset-Pro Non Gelar sudah membiayai dan memberangkatkan lebih dari 1.600 peserta dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Standardisasi Nasional, Badan Pengawas Tenaga Nuklir dan Kemristekdikti.

Baca juga: Kemristekdikti lampaui target pembentukan pusat unggulan iptek
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019