LIPI tampung pengungsi gempa Ambon

LIPI tampung pengungsi gempa Ambon

Korban gempa dari Desa Poka, Rumah Tiga dan Wayame yang mengungsi ke kantor P2LD-LIPI Ambon Maluku (30/9/2019) (ANTARA/Shariva Alaidrus)

Ambon (ANTARA) - Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD)  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Ambon menampung pengungsi korban dampak gempa tektonik bermagnitudo 6,5 yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada Kamis, 26 September 2019.

"Pengungsi mulai berdatangan sesaat setelah gempa bermagnitudo 6,5  terjadi, mereka ramai-ramai duduk di teras kantor. Untuk hari pertama kami sempat membagikan mi instan dan makanan ringan kepada mereka," kata Humas P2LD LIPI Rory Dompeipen di Ambon, Senin.

P2LD LIPI menampung lebih dari 100 pengungsi dari Desa Poka, Rumah Tiga dan Wayame, Kecamatan Teluk Ambon yang mencari perlindungan ke kantor mereka, empat orang di antaranya merupakan warga negara asing yang sementara bermukim di Mess Universitas Pattimura.

Ia mengatakan seiring adanya gempa susulan, jumlah pengungsi yang datang terus bertambah dan tetap bertahan di teras kantor, karena itu pihaknya kemudian menjadikan garasi yang berada di sisi kiri gedung utama sebagai tempat perlindungan.

Garasi yang sebelumnya hanya ruangan terbuka, dipasangi dinding semi permanen dari terpal, spanduk dan triplek yang biasa digunakan untuk memasang poster, juga diberi alas terpal dan baliho bekas sehingga bisa dipakai oleh pengungsi untuk beristirahat.

Selain itu, P2LD-LIPI juga menggelar permainan ular ikan, permainan simulasi menjaga lingkungan pesisir dan sumber daya laut kepada pengungsi yang berusia anak sehingga mereka tidak merasa tertekan berada di pengungsian.

Baca juga: Soal informasi gempa susulan, BPBD imbau warga Maluku tak panik

"Kami meletakkan satu unit mesin air panas di garasi agar bisa digunakan oleh pengungsi yang datang ke sini untuk menyeduh teh hangat, mereka juga dibolehkan menggunakan kamar mandi yang ada di dalam gedung kantor," ujar Rory.

Korban gempa yang masih berlindung di kantor P2LD-LIPI, kata dia, sudah didata dan dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku beberapa hari yang lalu, tapi hingga kini belum juga ditinjau oleh instansi terkait.

"Sudah kami laporkan dan direspon, tapi sampai hari ini belum ada orang BPBD yang datang menengok pengungsi di sini." ujar Rory.

Berlokasi di jalan Y. Syaranamual, kawasan Guru-Guru, Desa Poka, kantor P2LD-LIPI juga mengalami kerusakan ringan pada langit-langit gedungnya ketika gempa  mengguncang Pulau Ambon.

Sebagian plafon pada ruang rapat bubara dan cakalang terlepas dan jatuh, sementara lobi dan di beberapa ruangan lainnya tampak menunjukkan adanya tanda-tanda retak.

"Dampaknya tidak terlalu parah, hanya plafon di dua ruang rapat yang jatuh, dan ada beberapa ruangan yang plafonnya terlihat agak retak tapi tidak berbahaya," kata Rory.

 Baca juga: BNPB: Sejumlah fasilitas umum rusak akibat gempa Ambon
Pewarta : Shariva Alaidrus
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019