Anak Indonesia jawab seruan panik Greta Thunberg untuk perubahan iklim

Anak Indonesia jawab seruan panik Greta Thunberg untuk perubahan iklim

Peserta aksi mogok global untuk iklim melakukan "long march" di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (20/9/2019). ANTARA/Virna P Setyorini

Jakarta (ANTARA) - Menjelang Sidang PBB untuk perubahan iklim di New York, Amerika Serikat pada Senin (23/9), anak-anak muda dunia menggerakkan penduduk Bumi untuk ikut panik mengikuti seruan aktivis belia asal Swedia, Greta Thunberg, dalam Global Climate Strike.

Greta (16), ingin semua ikut panik menyikapi ancaman peningkatan suhu Bumi karena efek gas rumah kaca (GRK). Dirinya berpikir orang dewasa selalu berkata mereka berutang pada anak muda untuk memberikan mereka harapan.

“Tapi saya tidak menginginkan harapanmu. Saya tidak ingin kamu berharap. Saya ingin kamu untuk panik. Saya ingin kamu merasakan ketakutan yang saya rasakan setiap hari. Lalu saya ingin kamu untuk bertindak. Saya ingin kamu bertindak seperti kamu berada dalam krisis. Saya ingin kamu bertindak seperti rumah kita sedang terbakar. Karena memang demikian,” demikian Greta berbicara di World Economic Forum awal 2019 di Davos, Swiss.

Jumat (20/9), seruan Greta untuk panik dijawab anak-anak muda Indonesia. Ratusan hingga seribuan anak-anak usia Sekolah Dasar hingga mahasiswa, bahkan para santri dari sejumlah pesantren ikut turun ke jalan melaksanakan aksi iklim, sekaligus mengajak orang-orang dewasa untuk bergerak melaksanakan aksi nyata demi masa depan kehidupan mereka.

Baca juga: Generasi muda berunjuk rasa untuk urgensi kesadaran perubahan iklim

Aksi iklim di Indonesia mengangkat tema "Jeda untuk Iklim" dan berafiliasi dengan Global Climate Strike yang dilaksanakan serempak di lebih dari 137 negara.

Anak-anak muda peserta aksi mogok global untuk iklim mengikuti aksi aktivis muda Swedia Greta Thumberg melakukan "long march" di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (20/9/2019). ANTARA/Virna P Setyorini


Sekitar ratusan peserta aksi mengambil titik kumpul di Masjid Cut Mutia, sedangkan ratusan lainnya berkumpul di depan Balai Kota DKI Jakarta.

Mereka bergerak menuju Taman Aspirasi atau Taman Pandang Istana di Jalan Medan Mereka Barat untuk berorasi, bernyanyi, berdeklarasi, tepat selepas shalat Jumat.

Berbagai poster dalam Bahasa Indonesia dan Inggris menyuarakan isi hati kaum muda pada orang-orang dewasa yang kini masih berjaya.

Dari krisis iklim (climate crisis), mogok global untuk iklim (Global Strike for Climate), darurat iklim, Indonesia tenggelam kalau kita diam, kita cuma punya satu Bumi mari kita beraksi untuk menyelamatkannya (we only have one earth, let us act to save it).

Sesuai janji salah satu penggagas aksi "Jeda untuk Iklim", Alexandra Karyn, bahwa aksi hari ini 100 persen menggunakan energi bersih.

Maka sejumlah sepeda motor yang mereka gunakan menggunakan energi listrik, begitu pula mobil dan pengeras suara yang memanfaatkan energi dari panel surya.

Udara cukup panas, namun tidak menyudahi komitmen mereka beraksi untuk mengatasi perubahan iklim.

Aksi anak muda di Jakarta ini pun dilakukan oleh mereka yang berada di 18 kota di Indonesia, yakni Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, Garut, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu, dan Kupang.

Baca juga: Energi terbersihkan ramaikan Aksi Jeda Untuk Iklim

Penyangkalan iklim

Mahasiswi yang tergabung dalam komunitas Climate Rangers Jakarta, Novita Indri, mengatakan penyangkalan iklim di seluruh dunia ternyata juga terjadi Indonesia, berdasarkan sebuah survei.

Oleh karena itu, menurut dia, komunitas juga harus mendorong pemerintah dan media massa untuk lebih bersuara soal perubahan iklim, guna menutup gap pemahaman di masyarakat tentang isu global ini.

“Sebagai kaum muda, saya juga ingin mengurangi gap tersebut. Tidak cukup melalui media sosial, aksi 'Jeda untuk Iklim' ini jadi salah satu caranya,” ujar dia.

Selain itu, mahasiswi yang disapa Novi ini,  juga mengatakan aksi iklim tersebut untuk menuntut pemerintah lebih serius menurunkan emisi ketika sudah meratifikasi Paris Agreement dan menetapkan Nationally Determined Contributions (NDCs).

Novi mengkritisi Paris Agreement yang tidak mengharuskan negara-negara yang meratifikasinya memberikan komitmen yang mengikat secara nasional.

Seruan untuk panik dibawa salah satu peserta yang mengikuti aksi mogok global untuk iklim mengikuti aksi aktivis muda Swedia Greta Thumberg melakukan "long march" di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (20/9/2019). ANTARA/Virna P Setyorini


“Kalau begitu langkah konkritnya apa. Perlu ada keterikatan dalam bentuk political will,” tegas dia.

Direktur Eksekutif dari Enter Nusantara Mutia (25) mengatakan political will memang belum ada untuk energi bersih, sementara dunia sudah mulai sadar dengan melakukan transisi energi. Seharusnya Indonesia beralih.

“Kita tidak punya kata nanti! Sekarang kita sudah merasakan darurat iklim. Maka semua kalangan perlu terlibat di aksi 20 September ini,” kata dia sebelum berangkat ke New York untuk mengikuti Global Climate Strike di tempat itu.

Sementara itu, Kinanti Gurit Wening (15), dari Pesantren Misykat Al-Anwar, Bogor, yang juga mengikut aksi "Jeda untuk Iklim" yang mendapat penjelasan terkait dengan perubahan iklim dari ustadznya itu, mengatakan kondisi iklim saat ini terjadi karena aktivitas manusia.

Contohnya, ia mengatakan aktivitas penambangan dilakukan manusia sudah merusak ekosistem. Bukan cuma gunung yang akan rusak, akan tetapi hutan dan satwa pun dirusak.

"Jadi satu perbuatan itu tidak enggak cuma berefek pada satu hal tapi pada banyak hal," ujar dia.

Kinanti Gurit Wening (15), dari Pesantren Misykat Al-Anwar, Bogor, salah satu santri yang mengikuti aksi mogok global untuk iklim mengikuti aksi aktivis muda Swedia Greta Thumberg melakukan "long march" di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (20/9/2019). ANTARA/Virna P Setyorini


Menurut Kinan, upaya pemerintah masih kurang optimal terkait dengan usaha menurunkan emisi. Seharusnya pemerintah selain melakukan aksi menurunkan emisi juga memberitahukan pada masyarakat supaya bergerak bersama.

"Bumi yang menempati itu kan bukan cuma pemerintah, bukan cuma saya. Yang bergerak itu seharusnya juga semuanya," ucapnya.

Ia menilai kebanyakan masyarakat Indonesia masih kurang peduli terkait dengan perubahan iklim.

"Masyarakat Indonesia tuh kebanyakan enggak peduli dengan masalah-masalah kayak itu. Mereka itu kebanyakan mementingkan ‘kalau aku ok ya udah, kalau mereka enggak ok ya bodo amat’," katanya.

Dari pandangan Kinan, kebanyakan masyarakat yang melihat aksi iklim mereka hanya berdiri dan mengambil foto untuk menginikan status WA (Whatsapp) dan media sosialnya.

“Supaya terkesan mereka ikut aksi, padahal mereka tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Demikian pandangan kritis beberapa anak-anak muda yang mengikuti aksi "Jeda untuk Iklim di Jakarta.

Mereka masa depan Indonesia dan dunia, Mereka masa depan Bumi. Mereka yang mengajak semua untuk panik karena perubahan iklim sudah di sini.


Baca juga: Aksi nyata kekang perubahan iklim diserukan kalangan santri
Baca juga: Kaum muda peserta aksi iklim desak pemerintah kekang perubahan iklim

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019