Kuba mulai alami kelangkaan bahan bakar parah

Kuba mulai alami kelangkaan bahan bakar parah

Sejumlah imigran dari Kuba naik rakit melintasi sungai Suchiate dari Tecun Uman, Guatemala ke Ciudad Hidalgo, Meksiko, dalam perjalanannya ke Amerika Serikat, Senin (8/4/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Jose Cabezas/pras.

Havana (ANTARA) - Antrean masyarakat Kuba dalam cuaca panas terjadi berjam-jam untuk menaiki angkutan umum di Ibu Kota Havana, Jumat (13/9), sementara antrean di stasiun pengisian bahan bakar juga mengular, disebabkan oleh kelangkaan solar.

Kelangkaan itu, menurut pemerintah Kuba, merupakan dampak dari sanksi Amerika Serikat (AS) yang mulai mengancam.

“Saya menunggu sampai tiga jam untuk mendapat bus ke rumah kemarin,” kata seorang warga, Eloisa Alvarez.

Baca juga: Uni Eropa tegaskan dukungan kepada Kuba

Petugas kepolisian pun menyetop para pegawai yang menggunakan kendaraan dinas untuk meminta mereka menjemput pegawai lainnya agar menggunakan kendaraan bersama.

Cara tersebut dilakukan setelah adanya imbauan dari Presiden Miguel Diaz-Canel untuk membentuk solidaritas pada masa krisis saat ini sekaligus agar bisa menghemat pemakaian bahan bakar.

Pada Rabu (11/9), Diaz-Canel berbicara di stasiun televisi mengenai masa sulit yang akan dihadapi Kuba akibat upaya AS memblokade pengiriman bahan bakar ke negara itu, sehingga ketersediaan solar akan berkurang bulan ini.

Ia juga menyebut bahwa pemerintah telah menyetujui serangkaian perhitungan untuk menjamin pelayanan dasar. Beberapa investasi energi akan ditunda, sebagian pelayanan bus dan kereta juga akan dibatalkan, dan sebagian karyawan bisa bekerja dari rumah.

Baca juga: Kuba minta Kanada bantu akhiri sanksi AS atas Venezuela

Bagaimanapun, Diaz-Canel meyakinkan, krisis tersebut hanya akan terjadi sementara karena pengiriman bahan bakar untuk bulan Oktober sudah terjamin.

“Kondisi transportasi semakin memburuk walaupun pemerintah menyebut ini hanya sementara. Saya pun harus memakai sepeda lagi,” kata seorang warga, Alexei Perez Recio.

Pemerintah kembali meyakinkan masyarakat bahwa krisis itu tidak akan menjadi seperti masa-masa suram dahulu karena kini kegiatan ekonomi sudah beragam, pariwisata dan investasi asing sudah dibuka, bahkan negara juga mengembangkan industri minyak sendiri.

Namun keadaan saat ini tetap menjadi tanda memburuknya kondisi ekonomi Kuba. Pemerintah mulai menjatah energi sejak beberapa tahun lalu akibat penolakan pengiriman minyak bersubsidi dari sesama negara komunis, Venezuela.

Penjatahan dilakukan dengan memangkas penggunaan lampu penerangan jalan dan penggunaan listrik di lembaga pemerintah.

Pemerintah AS di bawah Donald Trump yang memperketat embargo yang sudah berjalan selama puluhan tahun hanya memperparah kondisi ekonomi Kuba.

Baca juga: Kuba cari obat krisis pangan, burung unta-hewan pengerat jadi menu

Sanksi terbaru yang diterapkan oleh AS terhadap perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA pada Januari lalu juga membuat Kuba kesulitan mendapat kiriman minyak dari Venezuela.

Perusahaan gabungan Kuba dan Venezuela, Transalba, yang mengoperasikan kapal untuk rute antara kedua negara juga mengalami kesulitan mencari kru kapal.

Beberapa kapal PDVSA seperti Manuela Saenz, Icaro, Terepaima dan Yare harus melengkapi armada tersebut.

Sumber: Reuters

Pewarta : Suwanti
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019