Batan kembangkan kedelai "tanaman sela" untuk produktivitas lahan

Batan kembangkan kedelai

Dokumentasi - Peneliti BATAN Yuliasti menunjukkan hasil penelitiannya berupa varietas kedelai lahan kering Kemuning 1 dan Kemuning 2. ANTARA/Indriani/aa.

Sumatera Selatan (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan tanaman sela kedelai dengan umur panen di bawah 80 hari untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memaksimalkan penggunaan lahan.

"Sekarang kita mencoba mengembangkan untuk yang tanaman sela atau tanaman antar musim dengan umur yang lebih pendek," kata Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Totti Tjiptosumirat kepada ANTARA di Sumatera Selatan, Kamis.

Baca juga: Batan-Lapan ikut arahan pemerintah jika harus pindah ke ibu kota baru

Tanaman sela adalah menanam tanaman lain di sela-sela tanaman pokok. Misalnya dengan pola budidaya padi, kedelai, padi, yang mana tanaman pokoknya adalah padi.

Hingga saat ini, Batan telah mengembangkan 25 varietas padi unggul dan 13 varietas kedelai unggul. Batan juga sudah mengembangkan varietas tanaman lain seperti kacang hijau, kacang tanah, gandum dan sorgum.

"Kita melakukan litbang teknologi ini dengan basis demand driven jadi permintaan dari kebutuhan yang ada. Kalau kebutuhan untuk lahan kering kita ciptakan untuk lahan kering," ujar dia menerangkan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan Batan. 

Baca juga: Batan intensif tingkatkan keunggulan varietas padi lokal

Totti menuturkan biasanya tanaman kedelai akan dapat dipanen pada umur 90-100 hari. Untuk itu, Batan mencoba mengembangkan tanaman kedelai yang dapat berumur di bawah 80 hari.

Tanaman kedelai ini dapat dijadikan tanaman sela pada pertanian padi sehingga tidak ada lahan tidur sementara. Setelah padi dipanen, biasanya lahan dibiarkan selama tiga bulan untuk kemudian dapat digunakan kembali menanam padi. 

Dengan demikian, berarti lahan menghadapi masa singkat "tidur" atau tidak digunakan.

Masa "tidur" atau "kosong" sementara itu dapat digunakan untuk menanam tanaman sela yakni kedelai, sehingga penggunaan lahan benar-benar dapat dimaksimalkan.

"Dari padi ke padi jaraknya tiga bulan masih bisa kedelai masuk itu, jadi kita tetap tujuannya adalah supaya kedelai tidak impor lagi karena kedelai impor itu kualitasnya tidak bagus," ujar dia.

Baca juga: Batan terus dorong lahirnya PPBT bidang pertanian

Baca juga: Nuklir bermanfaat bagi produktivitas pertanian rakyat, sebut Batan

 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019