Nuklir bermanfaat bagi produktivitas pertanian rakyat, sebut Batan

Nuklir bermanfaat bagi produktivitas pertanian rakyat, sebut Batan

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan (tengah) dan Bupati Mudi Rawas (kiri) memanen padi varietas kahayan di Desa G1 Mataram Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu (4/9/2019). (FOTO ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Sumatera Selatan (ANTARA) - Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan mengatakan nuklir bermanfaat bagi peningkatan produktivitas pertanian dan ekonomi rakyat melalui penciptaan varietas-varietas tanaman unggul.

"Nuklir bermanfaat untuk pertanian pangan dan Insya Allah meningkatkan ekonomi petani dari hasil yang lebih baik dari sebelumnya," katanya kepada wartawan usai panen raya padi varietas kahayan ciptaan Batan di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu.

Ia menjelaskan Batan secara intensif terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk menciptakan varietas unggul baru seperti padi, kedelai, dan sorgum.

Benih unggul bermutu, katanya,  memiliki sifat-sifat berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit tanaman, umur tanamnya pendek, dan rasa nasinya enak. Dengan keunggulan tersebut, maka petani akan diuntungkan dengan hasil produktivitas pertanian yang lebih tinggi sehingga mendapatkan pendapatan yang lebih baik untuk menunjang kesejahteraan mereka.

Penelitian dan pengembangan aplikasi teknologi isotop dan radiasi yang dilakukan Batan, kata dia,  berkontribusi terhadap pengayaan jumlah varietas nasional Indonesia.

Dia mangatakan hasil penelitian dan pengembangan (litbang) dari Batan didiseminasikan oleh tiga Agro Techno Park binaan Batan untuk penyebarluasan produk litbang Batan guna dimanfaatkan berbagai pengguna produk ltbang seperti masyarakat di daerah.

Batan diberi amanah untuk mengelola tiga Agro Techno Park (ATP) dan satu science techno park. Tiga ATP tersebut berlokasi di Kabupaten Klaten di Jawa Tengah, Kabupaten Musi Rawas di Sumatra Selatan, dan Kabupaten Polewali Mandar di Sulawesi Barat. Sedangkan STP berlokasi di Kawasan Nuklir Batan di Pasar Jumat, Jakarta.

"ATP tujuannya menghilirkan produk litbang kami," tuturnya.

Dia menuturkan produk litbang tidak hanya berhenti di laboratorium tapi juga menjadi jawaban atau solusi bagi kebutuhan masyarakat.

"Agar masyarakat di tempat ATP dan sekitarnya bisa merasakan manfaat dari produk litbang. Harapannya banyak muncul penangkar, menghasilkan banyak produk tidak hanya benihnya saja tapi di hilirnya ada barang jadinya," katanya.

Ia menambahkan bahwa Batan intensif menghasilkan varietas padi unggul untuk kebutuhan nasional dan lokal dalam rangka mendorong swasembada pangan.

Baca juga: BATAN bagi ilmu pemuliaan tanaman ke 14 negara

Baca juga: Negara Asia Pasifik dan IAEA sambut prakarsa Indonesia


Peningkatan produktivitas pertanian, kata dia,  menghadapi sejumlah tantangan antara lain cuaca ekstrim dan pengalihan fungsi lahan pertanian yang tidak bisa dihindari untuk kebutuhan pemukiman dan pembangunan. Untuk itu, penting adanya varietas unggul yang bisa menghasilkan produktivitas tinggi meski menghadapi luas lahan sempit.

"Harapannya nanti justru melahirkan varietas-varietas seperti sekarang yang produktivitasnya lebih tinggi daripada yang sekarang. Walaupun lahan semakin sempit tetapi produktivitasnya makin tinggi," ujarnya.

Menurut dia lahan-lahan yang selama ini tidak tergarap, yang disebut lahan marginal juga harus dimanfaatkan optimal.

"Batan fokusnya menghasilkan varietas yang bisa memenuhi kebutuhan para petani, memang dari sisi produktivitas, tahan hama, kemudian kita ingin tahan cuaca ekstrim," demikian Anhar Riza Antariksawan.

Baca juga: Kementan gandeng BATAN memacu ekspor produk pertanian

Baca juga: Lamongan gandeng Batan kembangkan pertanian dengan teknologi nuklir

Baca juga: Pupuk Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019