Wapres: inovasi bermakna jika dapat dikomersialkan

Wapres: inovasi bermakna jika dapat dikomersialkan

Wapres Jusuf Kalla didampingi Menristekdikti Mohamad Nasir disela-sela menghadiri Puncak Peringatan Hakteknas ke-24 di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)

Denpasar (ANTARA) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan berbagai inovasi akan menjadi bermakna jika dapat dikomersialkan dan dipasarkan sehingga dibutuhkan kerja sama kalangan akademisi dengan pengusaha.

"Kalau inovasi itu tidak bisa komersialkan, dipasarkan, itu hanya untuk memenuhi lemari-lemari buku tempat kita menulis. Jadi, yang penting kita butuh kerjasama antara akademisi, universitas dan para pengusaha," kata Wapres saat menyampaikan sambutan pada Puncak Peringatan Hakteknas ke-24, di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Rabu.

Menurut dia, di tengah persaingan yang begitu ketat, yang paling dibutuhkan adanya inovasi teknologi dan kerja sama berbagai komponen untuk bisa mengkomersialkan hasil-hasil riset.

Oleh karena itu, dalam peringatan Hakteknas ke-24 ini, dia mengharapkan kalangan pengusaha turut bertanggung jawab memanfaatkan hasil-hasil riset.

"Pengalaman saya di mana-mana, dalam memajukan industri dan teknologi hanya bisa dengan keseriusan, fokus, dan kadang-kadang marah dan keras," ujarnya.

Baca juga: Ilham Habibie sebut bonus demografi perlu dilengkapi daya inovasi

Dia pun mengajak para ilmuwan bukan hanya bekerja karena senang bekerja, tetapi harus senang untuk mencapai penemuan yang lebih baik dibandingkan hasil-hasil sebelumnya.

Di samping itu, Jusuf Kalla meminta kalangan kampus untuk menciptakan iklim pendidikan futuristik sehingga mahasiswanya berpikir ke depan bukan berpikir ke belakang.

"Untuk kesekian kalinya selalu saya katakan, apabila universitas selalu melihat ke belakang, maka dia museum. Tidak beda dengan museum yang melihat ke belakang, universitas harus melihat ke depan," ucapnya.

Di sisi lain, Jusuf Kalla mengatakan banyak kesempatan untuk berinovasi, termasuk dari sisi pelayanan. Dia mencontohkan dalam hal pemesanan kamar hotel, dengan adanya inovasi pelayanan sekarang tidak perlu datang langsung, tetapi bisa memanfaatkan layanan sistem daring (online).

"Sekarang kita masih mengimpor beras artinya inovasi di bidang pangan masih kita butuhkan. Kita impor daging berarti inovasi di bidang peternakan juga kita butuhkan," katanya pada acara yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai kampus di Tanah Air hingga pemerintah daerah dan kementerian/lembaga yang terkait dengan iptek.

Baca juga: Wagub Bali harapkan masukan rektor sinergi wisata budaya-teknologi
Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019