Masih berlaku status siaga darurat kabut asap karhutla di Aceh Barat

Masih berlaku status siaga darurat kabut asap karhutla di Aceh Barat

Bupati Aceh Barat H Ramli MS. (FOTO ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

Meulaboh (ANTARA) - Bupati Aceh Barat, Provinsi Aceh H Ramli MS menegaskan status siaga darurat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah itu hingga saat ini masih berlaku dan belum dicabut.

"Informasi yang saya peroleh dari BMKG, saat ini cuaca masih sangat panas, sehingga masih ada potensi terjadinya karhutla lagi di Kabupaten Aceh Barat," katanya kepada ANTARA, Sabtu di Meulaboh.

Ia mengakui saat ini sebagian besar lokasi kebakaran lahan dan hutan yang tersebar di sejumlah kecamatan di daerah itu sudah padam akibat guyuran hujan selama tiga hari sejak tanggal 10-12 Agutus 2019 dan dilakukan pemadaman dari udara menggunakan satu unit helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat, serta upaya pemadaman oleh BPBD, TNI, Polri, relawan RAPI, KPH IV dan masyarakat.

Akan tetapi, kata dia, pemantauan secara visual masih terus dilakukan guna memastikan bahwa titik api di lokasi karhutla tidak lagi terjadi atau terulang.

"Nanti kalau terburu-buru kita cabut status ini lalu kemudian terjadi lagi karhutla, pemerintah daerah juga yang kelabakan," katanya menambahkan.

Meski pun demikian, kata dia, pemerintah daerah berharap musibah tersebut tidak lagi terjadidi daerah itu karena sangat meresahkan masyarakat dan turut mengganggu kesehatan dan pernapasan warga, khususnya masyarakat yang bermukim di kawasan pedalaman Aceh Barat.

Ramli MS juga belum bisa memastikan kapan status darurat kabut asap di Aceh Barat akan dicabut, kecuali situasi di daerah tersebut betul-betul dapat dipastikan normal dan bebas karhutla.

Baca juga: Bupati Aceh Barat minta data karhutla tidak ditutup-tutupi

Baca juga: BPBA usulkan helikopter milik BNPB siaga di Aceh atasi karhutla

Baca juga: Forkompimda rekomendasi pencabutan status darurat karhutla Aceh Barat
Pewarta : Teuku Dedi Iskandar
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019