"The Lord Didi" tetap percaya diri walau K-Pop merajai industri

Penampilan penyanyi Didi Kempot di sela Pagelaran Wayang Kulit di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (2/8/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pras.

Jakarta (ANTARA) - Sebuah dinamika dari kalangan pendengar langgam jawa generasi milenial mulai menyeruak ketika industri musik Negeri Ginseng membombardir pasar hiburan Tanah Air.

Fenomena itu seakan membawa kembali memori era 90-an saat musik Punk berbicara tentang pergerakan anti-kemapanan pada gempuran melodi Pop. Walaupun sesungguhnya, pergerakan itu diusung oleh anak-anak muda dari keluarga yang mapan secara ekonomi.

Era musik Punk itulah yang memboyong lagu "God Save the Queen" ataupun Anarchy in the U.K." milik Sex Pistols serta "Blitzkrieg Bop" dan "Hey! Ho! Let's Go!" dari Ramones sehingga terkenal di kalangan kawula muda Indonesia.

Campur Sari namanya. Musik lokal yang kembali menampakkan dirinya kepada sebagian konsumen nusantara yang terlanjur hanyut dengan tembang-tembang K-Pop seperti grup Super Junior, BTS, Girls Generation, maupun BlackPink.

“Istilah Campur Sari merujuk pada perpaduan alat musik elektronik yang dipadukan dengan alat musik tradisional seperti gamelan,” kata pengamat musik Bens Leo saat dijumpai Antara di Jakarta.

Musik Campur Sari itulah yang mengantarkan penyanyi Didi Prasetyo, atau akrab disapa Didi Kempot, sebagai sosok populer sehingga musik itu dapat kembali menyita perhatian minat anak-anak muda.

Bens Leo menilai fenomena minat anak-anak muda terhadap lagu-lagu Didi Kempot sudah lama terjadi. Pengamat bernama lengkap itu Benny Hadi Utomo itu mengatakan ketertarikan anak muda akan Campur Sari bukan hanya pada lagu-lagu berbahasa Jawa, melainkan juga lagu-lagu berbahasa Sunda.

"Fenomena anak muda mendengarkan lagu daerah itu sebenarnya bukan hanya (lagu berbahasa) Jawa saja karena di Jawa Barat ada juga. Kalau (bahasa) Sunda ada istilah musik Cirebonan," ujar Bens.

Bahkan, lagu-lagu Campur Sari telah merambah mancanegara berkat lagu "Sayang" yang dibawakan Via Vallen dan populer di situs berbagi video Youtube.

“Kalau menurut saya, yang menarik adalah indikator utamanya, yaitu ketika Via Vallen membawakan lagu 'Sayang', karena ada perpaduan campuran bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia,” katanya.

Meskipun Campur Sari populer berkat Didi Kempot ataupun Via Vallen, Bens mengatakan pionir penyanyi Campur Sari adalah Anto Sugiartono. Penyanyi bernama panggung Manthous itu pertama kali mengenalkan sekaligus mendirikan grup Campur Sari pada 1993.

Baca juga: Didi Kempot todong Menhub dan Menperin nyanyikan "Sewu Kuto"

Kebangkitan “The Lord Didi” lewat media sosial

Kembalinya Campur Sari pada akhir periode 2010-an selepas tren pada era 1990-an tidak lepas dari sentuhan media jejaring sosial.

Berawal dari tayangan akun Youtube milik penyiar radio Hard Rock FM Gofar Hilman, lagu Didi Kempot dan musik Campur Sari mendapatkan perhatian warganet.

“Memang saya akui Gofar lah yang membuat saya seperti ini dan dapat lebih dikenal lagi terutama di kalangan anak muda,” kata Didi Kempot saat dijumpai Antara di Jakarta.

Didi Kempot pun lantas mendapatkan julukan "The Lord Didi" oleh warganet selain julukan Bapak Patah Hati Nasional (The Godfather of Broken Heart) yang justru menjadi kebanggaan bagi sang penyandang gelar itu.

“Ya itu menjadi kebanggaan saya. Menurut saya, apabila kamu mencintai bahasa daerah mu, kebetulan saya orang Jawa, pasti kamu menyukai lagu Jawa,” ujarnya

Pria bernama lengkap Didi Prasetyo itu juga mengatakan gelar The Godfather of Broken Heart bukan hal yang mengganggunya.

“Aku dengan sebutan itu tidak masalah ya, soalnya yang bikin anak-anak muda itu tuh pinter, cerdas, dan kreatif. Hal itu yang harusnya kita hargai,” ujar anak dari salah satu anggota Srimulat Ranto Edi Gudel itu.

Alasan utama mengambil tema-tema lagu patah hati, menurut adik dari pelawak Mamik Prakoso itu, adalah lagu itu mudah diterima selain banyak pendengar yang mengalami hal itu.

Didi Kempot mengaku telah menulis lagu pertama pertamanya pada 1989. Salah satunya berjudul "Cidro" dan direkam pertama kali di Musica Studio yang terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

Pria kelahiran 1966 itu menuturkan nama Didi Kempot merupakan singkatan dari Didi Kelompok Penyanyi Trotoar yang sebelumnya beredar di Solo.

Didi mengatakan telah dikenal bahkan sejak 1993 saat berkunjung ke Suriname dan Belanda.

“Saya keluar negeri itu pada 1993. Itu ke Suriname dan Belanda. Nah sekarang kalau saya datang ke Suriname, pasti (saya) selalu disambut oleh menteri yang ada disana dan ditonton presiden. Wis koyo pejabat lah (sudah kayak pejabat lah),” ujarnya sembari tertawa.

Meskipun telah tenar sebagai penyanyi Campur Sari, Didi Kempot justru tidak mengklaim diri sebagai penyanyi Campur Sari. Didi lebih setuju jika disebut sebagai penyanyi Jawa. Tapi, dia mengaku musiknya adalah Campur Sari.

“Kalau aku enggak ambil pusing dengan hal-hal kayak gitu ya. Mau dibilang Campur Sari apa Dangdut terserah. Yang penting, ijek iso neyengin uwong (masih bisa menyenangkan orang),” katanya.

Meskipun lirik lagunya berbahasa Jawa dan tidak semua pendengar muda mengerti artinya, Didi menilai para pendengar muda bukan hanya sekedar menikmati lirik melainkan juga musik yang mudah didengar.

“Kalo aku itu wajar-wajar saja ya karena musik-nya enak. Terus, dia (pendengar) suka ya kayak misalnya dengerin lagu barat. Kita belum tentu juga tahu artinya. Tapi karena musiknya enak, jadi pengen tahu juga apa artinya,” katanya.

Baca juga: Didi Kempot ingin buat lagu Borobudur

Pola Produksi Idealis dan Swadaya

Didi Kempot mengatakan masih memproduksi sendiri lagu-lagunya, mulai dari pembuatan lagu, rekaman, hingga promosi.

Didi tidak menampik kalau ada label besar yang bersedia memproduksi lagu-lagu miliknya selagi tidak membelenggunya dalam berkarya.

"Kalau saya selama ini, memang ada kerjasama dengan beberapa produser lokal. Rekaman juga di studio lokal dengan operator orang lokal yang sehari-hari sebagai petani," ujarnya.

"The Lord Didi" menuturkan akan terus membuat karya se-ideal mungkin dengan memberikan sentuhan akar budaya tanpa melihat keuntungan lebih yang didapatnya atas karya-karya itu.

"Gimana ya mas. Namanya rezekinya (saya) masih di situ. Tapi, saya tidak menutup kemungkinan kalau ada label besar yang mengundang, ya saya datang," ujarnya sembari tertawa.

"Kayanya kalau sepengalaman saya, label besar tidak banyak mengatur ya. Saya datang, nyanyi, ya sudah begitu.  Yang penting hak-haknya, sama royalti sudah saya tanda tangani. Tapi kalau sampai ngatur harus begini-begitu, tidak ya," tuturnya sembari mengaku akan bertahan dalam genre musik yang dikuasainya.

Didi Kempot juga menaruh harapan kepada seniman-seniman muda seperti NDX AKA, Pendhoza, dan seniman lain yang juga mengusung lagu berbahasa daerah untuk terus berkarya agar mendapatkan perhatian dari generasi-genrasi berikutnya.

"Generasi muda harus tetap berkarya, berfikir terus, bagaimana cara menyenangkan orang lain agar karya-karya kita sebagai seniman dan musisi daerah mau dan tetap didengar orang lain," ujarnya.

"Keinginan terbesar saya adalah para seniman daerah lain juga mulai melakukan hal yang sama. Mulai berkarya dengan bahasa daerah masing-masing karena Indonesia ini kaya akan budaya dan bahasa. Mari bawa bahasa daerah negara kita Indonesia untuk didengarkan ke seluruh penjuru dunia," kata The Godfather of Broken Heart.

Baca juga: Didi Kempot: cinta Selvi-Gibran bagaikan "Sewu Kuto"
Pewarta : Muhammad Adimaja
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019