Denpasar (Antara Bali) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali melakukan berbagai upaya pelatihan desain melibatkan perajin maupun usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebagai upaya meningkatkan perolehan ekspor nonmigas daerah ini.

"Kegiatan menyangkut 13 jenis pelatihan menekankan upaya meningkatkan rancang bangun (desain) berbagai jenis produk unggulan daerah ini," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Made Suastika di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, untuk UMKM usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) misalnya melakukan program pendampingan tenaga ahli perancang busana (desainer) untuk perajin usaha tenun.

Hal itu dilakukan dengan melaksanakan lima jenis pelatihan yakni pelatihan disain dan diversifikasi produk tenun, pencelupan benang sutra, tenun endek dan kerajinan tenun songket.

Made Suastika menambahkan, pihaknya juga menyelenggarakan pelatihan pengembangan fashion dan tenun endek dengan harapan mampu meningkatkan perelehan devisa dari ekspor TPT.

Berbagai upaya dan terobosan yang dilakukan tersebut, mengingat perolehan ekspor nonmigas Bali, khususnya dari TPT semakin menurun.

Made Suastika menambahkan, usaha TPT di Bali kalah bersaing dengan usaha serupa yang berkembang di China dan India. Hal itu karena usaha TPT di Bali masih mengimpor bahan baku dari mancanegara, sedangkan kedua negara pesaing itu memiliki bahan baku berupa kain sutera sehingga tidak mendatangkan lagi dari luar negeri.

Bali mengapalkan tekstil dan produk tekstil selama sembilan bulan periode Januari-September 2016 senilai 70,80 juta dolar AS, menurun 19,13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tercatat 87,54 juta dolar AS.

Demikian pula dari segi volume pengapalan matadagangan tersebut merosot 44,15 persen dari 44,94 juta potong pada periode Januari-September 2015 menjadi hanya 25,10 juta potong pada periode yang sama tahun 2016.

"Matadagangan yang diproduksi secara manual hasil sentuhan tangan-tangan terampil wanita Bali itu paling banyak diserap pasaran Australia 28,55 persen, menyusul Amerika Serikat 18,67 persen, Singapura 7,24 persen, Jepang 1,30 persen, Hongkong 2,27 persen, Belanda 0,84 persen, Thailand 0,67 persen, Jerman 0,82 persen dan 39,61 persen sisanya menembus berbagai negara lainnya di belahan dunia," ujar Made Suastika. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026