Ketika melihat sebuah iklan hotel di Kuta yang bangunannya sama sekali tidak mencerminkan arsitektur Bali, pria kelahiran Singaraja, 15 Pebruari 1945 ini mengatakan bahwa dirinya mau kembali bertugas di dinas pariwisata yang pernah dipimpinnya.
"Kalau melihat seperti ini, saya mau kembali ke kanwil, untuk turun dan mengecek langsung bangunan seperti ini. Saya mau menjadi kepala bagian perencanaan," katanya berseloroh seraya menunjukkan gambar iklan hotel saat diskusi dan peluncuran buku "Jendela Pariwisata Indonesia" di Kuta, Kabupaten Badung, Kamis.
Ia mengemukakan, sarana pariwisata yang tidak cocok dengan nilai budaya yang dianut masyarakat Bali seharusnya tidak dibiarkan berdiri karena hal itu akan merusak masa depan kepariwisataan di Pulau Dewata ini.
"Saya melihat ada bangunan di Kedonganan yang bangunannya lebih tinggi dari pohon kelapa. Ini harus dilakukan kontrol," kata mantan Kakanwil Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Parpostel) Provinsi Bali yang pernah mengenyam pendidikan Akta IV di IKIP Negeri Malang ini.
Menurut dia, keunikan Bali yang banyak diminiati oleh wisatawan asing maupun domestik, saat ini mulai memudar karena adanya perilaku yang terlalu komersial, serta banyaknya bangunan yang meningalkan arsitektur Bali.
Ia juga mengeritik Bandara Internasional Ngurah Rai yang dipenuhi dengan restoran dan toko souvenir. "Ini bandara atau mal?" kata lulusan pendidikan Manajemen Perhotelan International Institute Glion Swiss ini.
Anggota Komite Kode Etik Organisasi Kepariwisataan Dunia (UNWTO) ini juga mengingatkan agar semua pemangku kepentingan kepariwisataan di Bali menyediakan ruang untuk ikut sertanya masyarakat Bali dalam industri tersebut.
"Karena itu kegiatan pariwisata hendaknya lebih diarahkan ke model wisata pedesaan yang dikelola dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Bali. Wisata desa harus dilestarikan," katanya. (*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.