Denpasar (Antara Bali) - Ketua Pusat Penelitian Subak Univirsitas Udayana Prof Dr Wayan Windia menegaskan selama kurun waktu 70 tahun (1920-1990) sektor pariwisata Bali telah didorong habis-habisan untuk menjadi penghela sektor ekonomi daerah maupun nasional.

"Selama itu pula tidak ada protes yang substansial karena dirasakan masih mengandung manfaat. Namun kini, menjelang 100 tahun eksistensi sektor pariwisata di Bali (pada tahun 2020), telah terjadi berbagai protes substansial akibat kerusakan lingkungan, ketimpangan (pendapatan, regional dan nasional), sosio-kultural bahkan politik," kata Prof Windia yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Unud di Denpasar, Minggu.

Ia menegaskan, protes substansial terhadap proses pembangunan merupakan hal yang lumrah. Namun hal itu harus segera diantisipasi dengan mengadakan perubahan rencana strategis (renstra) pembangunan daerah bersangkutan.

"Bali kini sudah mengalami fenomena itu, namun para elit pimpinan daerah, tampaknya belum tersentuh dengan situasi itu. Sebaliknya justru tetap bersitegang dengan posisi pro-kontra. Tidak menempatkan dirinya dalam posisi sebagai supra-struktur," ujar Windia yang juga mantan anggota DPR-RI itu.

Eksistensi sektor pariwisata di Bali kini sudah berada dalam posisi yang stagnan dan cenderung merugikan masyarakat setempat. Mereka yang masih dapat mengeruk untung adalah hanya kaum kapitalis, kaum birokrat dan kaum penguasa.

Perkembangan sektor pariwisata (kedatangan wisatawan) yang masih meningkat di atas delapan persen, ternyata cendrung tidak menghasilkan apa-apa bagi Bali secara makro.

Demikian pula ketimpangan pendapatan masyarakat sudah dalam posisi 0,42 (Indeks Gini Ratio), telah terjadi ketimpangan ragional/nasional, petani (pendukung budaya Bali) berkurang sepuluh persen, sawah berkurang 1.000 haktare/tahun. migran yang menetap di Bali mencapai 62.000 orang/tahun.

Sektor pertanian (pendukung budaya Bali) terus menurun perannya, sekarang hanya 18 persen, sektor pertanian hanya berkembang 0,02 persen, nilai tukar petani (NTP) di lahan sawah (pertanian tanaman pangan) di bawah 100, artinya mereka merugi, dan kemiskinan di Bali meningkat 0,04 persen.

"Pengrajin di Bali sudah keok, diterjang kapitalis. Jadi, dari tiga sektor pokok yang ada di Bali, ternyata sektor pariwiata telah menjadi kanibal bagi sektor pertanian dan sektor industri rumah tangga," tutur Windia. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026