Singaraja (Antara Bali) - Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Suhardi mengatakan, pihaknya mengerahkan sekitar 30 personel bersenjata lengkap untuk membantu Polres Buleleng mengamankan kawasan konflik di Desa Adat Lemukih, Sawan, Bali.
Selain mengerahkan pasukan berseragam, kata Dandim Suhardi di Singaraja, Rabu, pihaknya juga menerjunkan sejumlah anggota yang mengenakan busana preman untuk membantu polisi mencari informasi serta mengamankan daerah perbatasan yang rawan disusupi oleh pihak luar Desa Lemukih.
"Kami tetap menjaga agar tidak ada pihak luar yang masuk lalu membuat suasana di Desa Lemukih semakin memanas. Masing-masing anggota sudah saya siagakan baik di daerah perbatasan maupun dalam kawasan desa itu," ujar Suhardi.
Kepada ANTARA, Suhardi mengaku sudah menggali semua informasi serta menghimpun data, khususnya siapa pihak yang dianggap sebagai provokator dan menjadikan masyarakat Desa Lemukih tersangkut konflik.
Terkait adanya penyusup yang telah memasuki kawasan Desa Lemukih, Suhardi mengatakan, memang ada segelintir informasi yang menyebutkan tentang itu.
Tapi, lanjutnya, pihaknya belum bisa mengatakan dari mana serta siapa orang yang telah penyusup ke Desa Lemukih. "Kami belum dapat sebuatkan siapa orangnya hingga menjadikan suasana di kawasan itu semakin tegang," katanya.
Di sisi lain, sejumlah informasi yang dihimpun di lapangan mengatakan, ada sejumlah penyusup dari kawasan seputaran Desa Lemukih untuk membantu salah satu pihak yang sedang bersengketa.
Menurut sumber yang sama, penyusup bahkan sempat membawa alat pemotong kayu yakni gergaji mesin untuk membantu warga pendukung pihak desa adat melakukan penutupan jalan.
"Mereka masuk melalui perkebunan cengkih yang rimbun dan gelap, sehingga sulit untuk dideteksi," ujar sumber.
Selain itu, lanjutnya, beberapa anggota juga memantau masuknya sejumlah warga luar dari sebelah Selatan Desa Lemukih, tepatnya dari Dusun Buah Banjah Atas yang menjadi akses masuk menuju kawasan konflik.
Berdasarkan pantauan terakhir, suasana di kawasan Desa Lemukih masih mencekam dan beberapa warga juga masih berkumpul di titik-titik tertentu serta membawa sejumlah senjata tajam.
Konflik antarwarga pemegang sertifikat atas tanah dengan pihak desa adat yang mengklaim lahan dalam puluhan herktre itu miliknya, sempat ditandai dengan aksi pembakaran belasan rumah, serta bentrok dengan menggunakan senjata tajam dan senapan angin.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.