Gianyar (Antara Bali) - Staf ahli dari Kementerian Pertanian menyatakan, guna menghindari beredarnya produk pangan organik palsu di pasaran, diperlukan sertifikasi produksi untuk jenis pangan tersebut.

"Perlu ada sertifikasi pangan organik guna menghindari peredaran produk yang palsu di pasaran," kata staf ahli Menteri Pertanian Bidang Pemberdayaan Masyarakat Pertanian Ir Syukur Iwantoro, di Ubud Gianyar, Bali, Kamis.

Ditemui ANTARA di sela-sela seminar nasional "Isu Pertanian Organik dan Tantangannya", Syukur Iwantoro menyebutkan, meningkatnya permintaan produk pangan organik berdampak pada menjamurnya produsen pangan tersebut.

"Mereka kini ramai-ramai memberi label 'organic' pada produk pangan yang diproduksinya. Latah dengan label organik ini, dikhawatirkan mendorong munculnya produk-produk organik palsu," katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, lanjut dia, sertifikasi untuk produk pangan yang benar-benar organik, kini mendesak diperlukan.

Namun demikian, Syukur Iwantoro mengakui kalau petani organik cukup mengalami kesulitan dalam melakukan sertifikasi atas hasil produksi sehubungan mahalnya proses jaminan sertifikasi.

Mengatasi hal itu, kata dai, Departemen Pertanian RI bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali melakukan terobosan untuk membuat sistem sertifikasi yang murah, bahkan gratis bagi pertani organik.

Dengan sertifikasi itu, sambung Syukur Iwantoro, hasil pertanian organik nantinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan berlaku secara internasional.

"Adanya sertifikasi itu juga diharapkan dapat membangun terobosan baru dalam mengembangkan pertanian organik di Bali dan Kabupaten Gianyar khususnya," ucapnya.

Ia menambahkan, prospek pengembangan pangan organik di Kabupaten Gianyar atau Bali secara keseluruhan di masa mendatang, akan mengarah pada yang lebih menjanjikan.

"Kebutuhan bahan organik untuk Bali sendiri, selama ini masih belum dapat dipenuhi oleh petani setempat, apalagi untuk kepentingan ekspor," ujar Syukur.

Dikatakan, bila peluang itu dapat ditangkap, tentu akan menjadi lahan usaha yang sangat menjanjikan bagi para petani Bali.

Sementara itu, Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menjelaskan, prospek pertanian pangan organik di Kabupaten Gianyar dan Bali cukup memberi harapan bagi para petani.

Syukur menambahkan, pertumbuhan permintaan produk organik dunia meningkat rata-rata 20 persen per tahun. "Selama kurun waktu 2000-2004, nilai  perdagangan produk organik telah mencapai 17,5 miliar dolar AS," ucapnya.

Untuk nilai perdagangan produk organik tahun ini, diperkirakan  akan mencapai 100 miliar dolar, yang 86 persen di antaranya merupakan pasar pangan dan minuman organik.

"Mengingat meningkatnya pemasaran pangan organik, maka sangat penting dilakukan sertifikasi produksi pangan organik," katanya menandaskan.

Hadir dalam seminar itu tampak Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Dr Muchrizal Sarwani, Direktur Standarisasi dan Mutu Ditjan PPHP Kemtan Dr Nyoman Oka Trijaya dan Manager Mutu Sertifikasi Internasional Agung Lestari Ir Josep Septiadi.

Di samping itu terlihat pula Ketua Bappeda Gianyar Ida Bagus Rai, Ketua Prodi Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Udayana Prof Dr Ir MS Mahendra MSc dan Kepala BaLai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali Ir I GAK Sudaratmaja MS. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026