Rombongan mahasiswa AS yang dibimbing Prof Thomas Christian Hilde (Director of Indonesia and Peru Programs) diterima oleh Ketua Pusat Penelitian Subak Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia didampingi oleh Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.
Pertemuan berlangsung di tengah persawahan sekaligus berdiskusi membahas tengang subak. Mereka sangat antusias dan tertarik mempelajari sistem irigasi subak yang sangat tradisional.
Subak sangat efektif dalam pengelolaan irigasi dan berusaha tani di lahan sawah. Subak di Bali hingga kini masih mampu mempertahankan sistem irigasinya yang bersifat tradisional.
Keberadaan subak masih tetap terpelihara, meskipun diterpa oleh berbagai masalah atau isu-isu yang berkenaan dengan alih fungsi lahan. Hingga saat ini, eksistensi subak di Bali masih bertahan, bahkan tetap menjadi suatu institusi lokal yang memiliki peran sangat vital dalam pembangunan pertanian.
Windia menjelaskan, subak di Bali juga merupakan salah satu budaya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kondisi sawah yang lestari dan menghijau sangat dikagumi oleh rombongan mahasiswa asing tersebut.
Mahasiswa asing itu sangat antusias dan tertarik mempelajari sistem irigasi subak yang sangat tradisional, namun efektif dalam pengelolaan organisasi pengairan tradisional.
Windia menjelaskan, bahwa salah satu sistem irigasi yang dimiliki oleh subak adalah "one inlet one outlet system", sehingga anggota subak sangat mudah untuk melakukan kegiatan pinjam-meminjam air melalui bangunan bagi yang ada di saluran.
Selain itu petani juga dapat membagi lahan sawahnya untuk ditanami padi dan palawija terutama pada saat musim kemarau.
Sementara Dr Gede Sedana secara praktis memberikan penjelasan mengenai peminjaman air pada bangunan bagi, yaitu dengan cara memasang batu atau kayu di salah satu inlet milik petani.
Para mahasiswa awalnya menyangsikan akan terjadinya pencurian air antarpetani karena kemungkinan untuk pencurian tersebut sangat mudah. Di dalam internal subak, pencurian air irigasi hampir tidak pernah terjadi karena para petani telah memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pemanfaatan air irigasi.
Pada sistem subak, seluruh aktivitas irigasi dan usaha tani di lahan sawah selalu didasarkan pada konsensus bersama. Salah satu faktor pengikat yang sangat kuat dalam pengelolaan sistem irigasi subak adanya aktivitas ritual atau upacara keagamaan.
Keyakinan yang tinggi terhadap Tuhan menjadi bagian dari filosofi subak yakni Tri Hita Karana yakni hubungan yang serasi dan harmonis sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Seluruh mahasiswa asing semakin tertarik dengan penjelasan mengenai kegiatan ritual subak tersebut.
Dr Gede Sedana menjelaskan, terdapat sekitar 15 jenis upacara ritual subak yang
dilakukan secara berurutan sesuai dengan tahapan penanaman padi di lahan sawah.
Menurut mereka, sistem subak memang sangat unik karena unsur spiritual atau keagamaan msnjadi bagian yang sangat penting dalam pengelolaan irigasi dan pertanian.
Para mahasiswa tersebut juga menanyakan masalah-masalah yang dihadapi oleh subak dalam kaitannya dengan pengelolaan irigasi dan pertanian di lahan sawah.
Prof Windia maupun Dr Sedana menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi petani adalah alih fungsi lahan sawah yang berada di kawasan dan sekitar perkotaan, pajak sawah yang semakin tinggi, pencemaran air irigasi, serangan hama, penyakit dan keengganan generasi muda untuk bertani.
Mereka selanjutnya memberikan gagasan agar diperlukan adanya kebijakan yang aplikatif dan mengikat bagi semua pihak untuk tetap menjamin kelestarian sistem subak. Untuk itu pemerintah dituntut mampu mengendalikan terjadinya alih fungsi lahan dan masalah pencemaran air yang dimanfaatkan oleh petani, ujar Prof Windia. (LHS)
Pewarta: Oleh IK Sutika: Ni Luh Rhismawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.