Gianyar, Bali (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Bali memanfaatkan pelaksanaan Agung Rai Museum of Art (ARMA) Fest untuk memetakan potensi dan mencari bibit seniman muda yang nantinya dapat diberikan ruang berkarya dan berkembang.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Wayan Adi Parbawa di Gianyar, Senin, mengatakan ARMA Fest tidak hanya dipandang sebagai kegiatan festival, tetapi juga ruang untuk menggali, merekonstruksi, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal.

"Makna dari ARMA Fest di sini adalah yang pertama adalah merekonstruksi, menggali, kemudian menghidupkan kembali nilai-nilai terutama kekhususan tentang kearifan lokal yang ada di Kabupaten Gianyar," katanya.

Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui Dinas Kebudayaan berkewajiban hadir dalam berbagai kegiatan seni dan budaya untuk menemukan potensi yang dimiliki generasi muda di setiap wilayah.

Adi mengatakan ARMA Fest menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan seni dan budaya kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan, seperti lokakarya kendang, melukis klasik gaya Keliki, melukis spontan, serta perlombaan baleganjur.

Lokakarya kendang dalam ARMA Fest diikuti sekitar 80 peserta dan akan dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan pada November mendatang, sedangkan kegiatan melukis spontan melibatkan sekitar 300 peserta dari tingkat SMP, SMA hingga umum.

"Program daripada Dinas Kebudayaan di sini adalah kita akan mencari bibit generasi yang ke depannya kita akan berikan ruang untuk memang berkarya," ujarnya.

Ia mengatakan pencarian potensi tersebut tidak hanya dilakukan di satu wilayah, tetapi mencakup seluruh kecamatan di Kabupaten Gianyar, seperti Payangan, Tegallalang, Tampaksiring, Ubud, Blahbatuh, Sukawati dan Gianyar.

Potensi yang dipetakan juga mencakup berbagai bidang seni dan budaya, mulai dari seni rupa, kriya, kuliner, sastra, karawitan hingga tari.

Dia menjelaskan potensi tersebut perlu didokumentasikan dan didata sehingga dapat menjadi bagian dari kajian yang nantinya dikembalikan kepada masyarakat di wilayah asalnya.

Ia menilai upaya tersebut penting untuk menjaga kesinambungan karya para seniman terdahulu sekaligus memastikan generasi muda mengenal sejarah dan proses lahirnya berbagai karya seni dan budaya di Gianyar.

Salah satu upaya yang sedang dilakukan dalam rangkaian ARMA Fest, kata Adi, menggali kembali sejarah kelahiran tari Legong yang berkembang di Puri Peliatan Agung, Gianyar.

Ia berharap, proses tersebut dapat berlanjut hingga menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih lengkap dan dapat dihadirkan pada 2027.

Dinas Kebudayaan akan terus bersinergi dengan pengelola kegiatan budaya dan komunitas untuk memastikan festival tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi memberikan dampak terhadap pelestarian budaya dan regenerasi seniman.

"Momentum kegiatan-kegiatan festival yang ada di Kabupaten Gianyar seyogianya dan berkewajiban kami harus mendukung dari Pemerintah Kabupaten Gianyar, khususnya Dinas Kebudayaan, untuk memberikan suatu warna, kemudian juga pengawalan supaya betul-betul makna daripada hajatan kesenian ini betul-betul berdampak dengan baik," katanya.

Melalui festival seperti ARMA Fest, pemerintah dapat turun langsung melihat potensi masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas.

Ia berharap, upaya tersebut dapat memperkuat pelestarian seni dan budaya Gianyar sekaligus memastikan karya para seniman dari generasi sebelumnya tetap dikenal dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.



Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026