Denpasar, Bali (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster menilai kompetisi keamanan siber internasional Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026, yang digelar di Bali, merupakan capaian penting.
"Penyelenggaraan ini menjadi capaian penting karena sebelumnya kompetisi tersebut digelar di sejumlah universitas terkemuka dunia, seperti Royal Holloway University of London, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Keio University Jepang, Edith Cowan University Australia, dan Northeastern University di Boston," kata Koster di Denpasar, Bali, Selasa.
Koster, yang membuka acara lewat pemukulan gong menyambut baik kompetisi yang diikuti 81 peserta dari 13 negara, yaitu Indonesia, Jepang, Australia, Hong Kong, Singapura, Bangladesh, Kamboja, Inggris, Kazakhstan, Laos, Filipina, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Ajang ini mendatangkan talenta-talenta dunia perwakilan dari berbagai perguruan tinggi ke Pulau Dewata, antara lain University of Cambridge, Keio University Jepang, Royal Holloway University of London, Edith Cowan University Australia, The University of Melbourne, Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung.
Indonesia menjadi tuan rumah C2C-CTF 2026 melalui Universitas Indonesia dengan menggandeng Universitas Udayana sebagai mitra pelaksana di Bali.
Gubernur Bali menyebut kompetisi global ini berlangsung dari 10 hingga 14 Agustus 2026 diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di bawah naungan International Cyber Security Center of Excellence (INCS-CoE).
Kompetisi ini merupakan bagian dari pengembangan Cyber Security Center of Excellence yang dibangun melalui kerja sama hibah Pemerintah Jepang yakni Japan International Cooperation Agency (JICA).
Program telah berjalan selama enam tahun dengan Universitas Indonesia sebagai pelaksana dan Kementerian Komdigi sebagai mitra pemerintah dalam pengembangannya.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komdigi Alexander Sabar dalam sambutan yang disampaikan secara daring juga menyampaikan bahwa ajang bergengsi ini adalah capaian positif.
Hal ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kapasitas talenta siber nasional sekaligus memperluas kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
"Perkembangan geopolitik dunia membuat serangan siber terus meningkat dan melintasi batas negara, karena itu setiap negara perlu memperkuat kemampuan sumber daya manusia di bidang keamanan siber agar mampu menghadapi berbagai tantangan baru di era digital," ujarnya.
Alexander menilai pengembangan talenta menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan siber nasional.
Karena itu, Kementerian Komdigi mendukung penyelenggaraan C2C-CTF 2026 yang mempertemukan mahasiswa dan peneliti keamanan siber dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan serta menguji kemampuan teknis menghadapi berbagai skenario ancaman digital.
Rektor Universitas Indonesia Heri Hermansyah dalam sambutan yang disampaikan melalui tayangan video juga menyambut baik dan mengapresiasi pelaksanaan kompetisi C2C-CTF 2026.
"Universitas Indonesia merasa bangga bisa berpartisipasi aktif dalam menyukseskan kegiatan ini," katanya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.