Denpasar (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan Bali dalam memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-33 menonjolkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 sebagai capaian di Provinsi Bali.

“Capaian yang ingin kami tunjukkan bukan semata-mata angka kelahiran, tetapi kualitas pembangunan kependudukan dan keluarga di Bali, SUPAS 2025 menunjukkan beberapa indikator yang sangat positif,” kata Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Bali Ni Luh Gede Sukardiasih.

Ia di Denpasar, Senin, menyebut beberapa indikator positif seperti Bali masih berada dalam fase bonus demografi, dengan 69,53 persen penduduk berada pada usia produktif dan rasio ketergantungan 43,82 persen. 

Di sisi lain, Angka Kematian Bayi (IMR) terus menurun menjadi 11,51 persen, yang menunjukkan semakin baiknya kualitas kesehatan ibu dan anak.

Namun, ada tantangan menyertai berkaca dari hasil SUPAS 2025 yaitu angka kelahiran total (TFR) Bali yang berada di angka 2,02 persen berada di bawah tingkat penggantian, sementara proporsi penduduk lansia terus meningkat hingga 15,07 persen. 

Kondisi ini menunjukkan pembangunan kependudukan ke depan tidak hanya berbicara tentang pengendalian kelahiran, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan struktur penduduk, meningkatkan kualitas keluarga, dan memastikan setiap anak yang lahir memperoleh pengasuhan, gizi, pendidikan, serta perlindungan yang optimal. 

“Dengan kata lain, keberhasilan yang ingin kami tunjukkan adalah Bali mampu menjaga kualitas penduduk melalui keluarga yang berkualitas, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan bonus demografi dan penuaan penduduk secara berkelanjutan,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN Bali.

Harganas 2026 sendiri secara nasional mendorong pembangunan sumber daya manusia tidak dimulai dari sekolah atau dunia kerja, tetapi dimulai dari keluarga, bahkan sejak 1.000 hari pertama kehidupan. 

Dengan tema utama Ayah Wajib Hadir, kehadiran ayah tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga secara emosional dalam proses tumbuh kembang anak.

Sukardiasih menyampaikan, bagi BKKBN Bali semangat Ayah Wajib Hadir juga menjadi bagian penting dalam upaya percepatan penurunan stunting, sebab pengasuhan yang optimal bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.

Sejalan dengan itu, fokus layanan di Provinsi Bali yaitu membangun keluarga Indonesia yang berkualitas pada setiap siklus kehidupan.

“Artinya, layanan kami dimulai sejak remaja melalui edukasi kesiapan berkeluarga, berlanjut pada pendampingan calon pengantin, pelayanan kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana bagi pasangan usia subur, pendampingan ibu hamil dan 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting, penguatan ketahanan keluarga, hingga pemberdayaan lanjut usia agar tetap sehat, aktif, dan produktif,” ujarnya.

Maka itu hasil SUPAS 2025 menjadi pertimbangan, angka-angka tersebut mengharuskan pembangunan keluarga dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berorientasi pada kelahiran, tetapi juga memastikan setiap individu memperoleh pelayanan dan pendampingan sesuai tahap kehidupannya sehingga mampu membentuk keluarga yang sehat, tangguh, dan sejahtera.  

Sukardiasih mengakui menjaga keseimbangan antara kuantitas dan kualitas penduduk ini memang tantangan tidak mudah, apabila jumlah kelahiran meningkat, maka kesiapan layanan kesehatan, pemenuhan gizi, kualitas pengasuhan, sanitasi, pendidikan, hingga perlindungan sosial juga harus meningkat.

Tanpa itu, Sukardiasih menyebut risiko stunting dan berbagai permasalahan pembangunan manusia akan ikut meningkat.

“Karena itu, yang menjadi fokus kami bukan semata-mata berapa jumlah anak yang dilahirkan, tetapi memastikan setiap anak lahir dari kehamilan yang direncanakan, memperoleh gizi optimal sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun, mendapatkan pengasuhan yang baik, serta tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan tangguh,” tuturnya.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026