Denpasar (ANTARA) - Duta Gong Kebyar Anak-Anak (GKA) Kota Denpasar dari Sanggar Cilinaya, Desa Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, menampilkan dolanan tradisional Upih Jaran pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) di Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara di Denpasar, Selasa, mengapresiasi penabuh, penari, pelatih, dan keluarga besar Sanggar Cilinaya yang dinilai menunjukkan dedikasi dalam menjaga serta melestarikan seni budaya Bali.
"Adik-adik penabuh dan penari telah menunjukkan semangat luar biasa. Ini menjadi kebanggaan bagi Kota Denpasar karena generasi mudanya terus berlatih, berkarya, dan menjaga adat serta budaya Bali," kata Jaya Negara.
Menurut dia, penampilan tersebut tidak hanya menunjukkan kualitas artistik, tetapi juga mencerminkan semangat generasi muda dalam mencintai dan merawat warisan budaya leluhur.
Dalam pementasan itu, Duta GKA Kota Denpasar mengangkat nilai budaya dan permainan tradisional melalui dolanan Upih Jaran. Penampilan berlangsung di panggung sisi utara dan berhadapan dengan Duta GKA Kabupaten Bangli dari Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Banjar Demulih, Desa Adat Demulih, Kecamatan Susut.
Kedua sekaa menampilkan tabuh kreasi pepanggulan, tari kreasi, dan dolanan sebagai penutup sajian seni di hadapan ratusan penonton yang memadati arena pertunjukan.
Koordinator Sanggar Cilinaya I Ketut Sudiarta mengatakan Duta GKA Kota Denpasar membawakan tiga garapan utama, yakni Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudhi Atma, Tari Kreasi Puja Prasamya, dan dolanan Upih Jaran.
Tabuh Sudhi Atma merupakan karya I Made Suwendra yang menggambarkan proses penyucian jiwa untuk mencapai keheningan batin melalui harmonisasi nada dan teknik permainan Gong Kebyar.
Sementara itu, Tari Puja Prasamya merupakan tari penyambutan yang mengandung pesan kebersamaan, saling menghormati, dan kasih sayang sebagai landasan terciptanya kedamaian.
Penampilan ditutup dengan dolanan Upih Jaran yang terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak menggunakan daun upih yang dibentuk menyerupai kuda.
Karya yang ditata oleh Yan Ove bersama Tu dan Tik tersebut mengangkat pesan tentang pentingnya menjaga alam, menghormati roh dan jiwa yang menyertai kehidupan, serta melestarikan tradisi budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Bali.
Pewarta: Rolandus NampuEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.