Gianyar, Bali (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gianyar membagikan upaya mengatasi sampah kepada Pemerintah Kamboja mulai dari kebijakan hingga tata kelola sampah yang melibatkan masyarakat desa adat.
“Pengelolaan sampah dari sumbernya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi juga menjadi kewajiban pemerintah desa, kelurahan, desa adat, serta seluruh masyarakat,” kata Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun di Gianyar, Bali, Sabtu.
Ia menjelaskan pertambahan penduduk, peningkatan aktivitas masyarakat, perubahan gaya hidup, serta pola konsumsi yang terus berkembang berperan besar menambah jumlah timbulan sampah.
Kondisi itu menjadi tantangan yang kompleks dihadapi pemerintah guna menanggulangi sampah.
Kepada delegasi Kamboja, Wakil Bupati Gianyar menjelaskan keterbatasan lahan akibat pertumbuhan penduduk juga menjadi tantangan dalam penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.
“Melalui pengurangan dan penanganan sampah berbasis sumber, setiap komponen dapat menjalankan peran dan kewajibannya sehingga volume sampah yang dibawa ke TPA Temesi dapat terus berkurang dan hanya menyisakan residu,” ucapnya.
Upaya tersebut diperkuat dengan Peraturan Bupati Gianyar Nomor 76 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal yang mewajibkan masyarakat melakukan pemilahan sampah dari sumbernya serta mengikuti jadwal pengangkutan sampah sesuai ketentuan.
Saat ini Kabupaten Gianyar memiliki 48 unit tempat pengelolaan sampah berbasis pengurangan, pemanfaatan kembali dan daur ulang (TPS 3R) atau Rumah Kompos yang tersebar di 45 desa dan satu kelurahan.
Fasilitas tersebut menjadi ujung tombak pengelolaan sampah berbasis sumber karena berperan langsung dalam mengurangi timbulan sampah sebelum masuk ke TPA.
Sementara itu, Sekretaris Negara Kementerian Dalam Negeri Kamboja Oum Mara mengaku pertama kali berkunjung ke Kabupaten Gianyar.
Pemerintah Kamboja, kata dia, ingin mempelajari berbagai inovasi, program, dan pengalaman yang telah diterapkan Kabupaten Gianyar dalam pengelolaan sampah.
Menurutnya, pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung menjadi salah satu hal yang menarik untuk didalami.
"Kami berharap dapat memperoleh inovasi baru, program-program, serta pengalaman dalam pengelolaan sampah yang telah diterapkan di sini. Kami sangat tertarik melihat bagaimana masyarakat berperan aktif dalam mengelola sampah, termasuk penerapan teknologi rumah kompos yang telah berjalan dengan baik," katanya.
Lebih lanjut, Oum Mara berharap hubungan dan kerja sama yang telah terjalin melalui kunjungan dapat terus berlanjut di masa mendatang melalui berbagai bentuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang pengelolaan lingkungan.
Pewarta: RedaksiEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.