Bangli (ANTARA) - Di tengah gempuran modernisasi, Kelompok Perajin Tenun Ikat Giri Putri di Kabupaten Bangli, Bali, terus berupaya menjaga kelestarian warisan leluhur.

Setidaknya dalam 20 tahun terakhir, kelompok ini konsisten memproduksi kain tenun tradisional khas Bangli demi menjaga budaya lokal agar tidak punah.

Namun, perjalanan mempertahankan warisan Nusantara ini tidaklah mudah.

Kerajinan tenun ikat Giri Putri saat ini tengah berjuang menghadapi dua tantangan besar yang mengancam, yakni minimnya generasi penerus dan tingginya ketergantungan pada bahan baku impor.

Salah satu pemilik usaha kain tenun ikat Giri Putri, Agung Giri, mengungkapkan seni menenun kini semakin kehilangan daya pikat di mata generasi muda.

Menurut Agung, menumbuhkan minat anak muda terhadap seni tenun ikat tidak bisa hanya mengandalkan lingkaran sekunder para perajin saja.

Perlu ada intervensi strategis dan formal, salah satunya melalui dunia pendidikan.

Ia sangat berharap lembaga pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dapat mengintegrasikan seni tenun ke dalam program ekstrakurikuler.

"Untuk mengajak anak muda secara langsung memang agak sulit bagi kami. Oleh karena itu, perlu andil dari pihak sekolah atau dunia pendidikan. Jika dimasukkan ke dalam ekstrakurikuler, mereka akan mulai tahu, belajar, dan dari sana perlahan pasti mau menekuninya," kata Agung.

Selain persoalan regenerasi yang tersendat, urusan dapur produksi juga dihantui kendala klasik, yaitu ketersediaan bahan baku.

Agung membeberkan hingga saat ini, pihaknya masih bergantung penuh pada benang impor akibat pasokan kapas dan sutra berkualitas di dalam negeri belum tercukupi.

"Untuk bahan baku saat ini, benang katunnya memang kami datangkan dari India karena di Indonesia belum ada yang memadai. Sementara untuk benang sutranya, kami ambil dari China," jelasnya.

Ketergantungan pada rantai pasok luar negeri ini otomatis berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual kain di pasaran.

Saat ini, sepotong kain tenun ikat Giri Putri berbahan katun dibanderol mulai dari harga Rp300.000.

Sementara itu, untuk kain berbahan sutra, harganya bisa mencapai Rp800.000 per potong.

Melalui sinergi antara pelestarian budaya, dunia pendidikan, dan penguatan industri bahan baku lokal, diharapkan kain tenun Giri Putri Bangli tidak hanya sekadar bertahan sebagai identitas masa lalu, tetapi juga menjelma menjadi warisan hidup yang terus menghidupi generasi masa depan.



Pewarta: Tim Redaksi Antara Bali
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026