Bangli (ANTARA) - Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Besar Al-Muhajirin, Kintamani, Kabupaten Bangli, berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh semangat kebersamaan.

Salah satu hal khas saat perayaan Idul Adha di Kintamani adalah toleransi yang tinggi antar umat beragama. 

“Kami berada di tengah-tengah desa adat Kintamani, dan dari tahun ke tahun selalu berbaur harmonis antara muslim dan non-muslim. Ada beberapa banjar yang kami berikan, dan mereka pun juga turut memberikan hewan kurban. Di sini ada hak dan kewajiban yang sama. Kami berharap momen ini bisa membuat kesejahteraan masyarakat semakin merata dan mempererat tali persaudaraan,” ujar Ketua PHBI Saiful Rahman. 

Mengingat lokasi masjid berada di tengah kawasan desa adat, tradisi saling berbagi memang sudah menjadi budaya yang mapan.

Daging kurban tidak hanya dibagikan kepada warga muslim, tetapi juga disalurkan ke berbagai banjar dan lingkungan sekitar yang mayoritas penduduknya non-muslim. 

Hubungan timbal balik ini pun terjalin baik, karena warga dari berbagai banjar tersebut juga turut berpartisipasi menyumbangkan hewan kurban setiap tahunnya.

Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar.

Dalam sambutannya, ia sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang berjalan lancar dan penuh kekompakan tersebut.

 Ia menilai, apa yang dilakukan masyarakat Kintamani adalah contoh nyata dari nilai gotong royong, kebersamaan, dan keikhlasan yang menjadi ciri khas Bangli.

“Kami dari Pemerintah Kabupaten Bangli sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan hari ini, yang berjalan dengan penuh rasa gotong royong, kebersamaan, dan keikhlasan dalam rangka melaksanakan ibadah kurban. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan di momentum hari suci ini menjadikan kita semua mendapatkan berkat, keselamatan, dan kebahagiaan,” ujar I Wayan Diar di hadapan warga.

Diketahui, kegiatan pemotongan hewan kurban kali ini mengumpulkan total 24 ekor hewan, yang terdiri dari 5 ekor sapi dan 19 ekor kambing.

“Alhamdulillah sampai saat ini, sapi yang terkumpul ada 5 ekor, dan kambing ada 19 ekor. Dari sisi jumlah sapi memang berkurang satu, namun kambing bertambah. Hal ini disebabkan karena sulitnya mendapatkan sapi yang layak, sehingga banyak yang beralih ke kambing,” ungkap Saiful Rahman selaku Ketua PHBI.

Jumlah ini mengalami perubahan komposisi dibandingkan tahun sebelumnya, di mana jumlah sapi berkurang satu ekor, sementara jumlah kambing justru meningkat.

Penyesuaian ini disampaikan panitia karena sulitnya mendapatkan pasokan sapi yang memenuhi syarat, sehingga sebagian donatur beralih memberikan hewan kurban berupa kambing.

Hewan-hewan kurban yang disembelih di lokasi ini berasal dari berbagai sumber, baik itu sumbangan instansi pemerintah maupun partisipasi masyarakat sekitar. 
Sebagian hewan berasal dari instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli, sumbangan sapi dari Presiden Prabowo Subianto, serta dukungan dari berbagai instansi dan warga di banjar-banjar sekitar wilayah Kintamani.

Dalam menjamin kelayakan hewan kurban, panitia menerapkan standar kriteria yang ketat sesuai syariat islam dan peraturan kesehatan. 

Hewan yang diterima wajib memenuhi syarat usia minimal satu tahun atau sudah memiliki gigi ketus satu, serta dalam kondisi sehat.

“Kriteria khusus itu ada. Syarat utamanya adalah umur sudah masuk kategori layak kurban, giginya ketus satu, dan yang pasti sehat. Dari pihak Puskeswan pun ada empat orang yang bertugas di sini memantau kesehatan hewan,” Ujar Saiful Rahman.

Proses penyembelihan sendiri dipercayakan kepada tenaga ahli yang berasal dari warga lokal setempat, sebuah tradisi yang terus dijaga dari tahun ke tahun.
 
Terdapat empat orang juru sembelih utama yang memiliki keahlian dan pemahaman mendalam mengenai tata cara syariat, serta dibantu oleh banyak warga masyarakat sekitar dalam proses pelaksanaannya. 

“Kalau di tempat kami, dari tahun ke tahun juru sembelihnya orang lokal semua. Ada 4 orang utama yang memang mengerti syariat dan tata cara yang benar, dibantu oleh masyarakat sekitar,” tambahnya.

Selain memperhatikan aspek syariat, panitia juga memastikan aspek higienitas dan kualitas daging terjaga, meskipun lokasi berada di dataran tinggi. 

Daging hasil penyembelihan tidak langsung dibagikan dalam bentuk mentah, melainkan terlebih dahulu diolah, ditimbang, dan dipilah secara proporsional agar pembagiannya merata dan sesuai ketentuan.

Bagi masyarakat Kintamani, Idul Adha tahun ini bukan sekadar ibadah penyembelihan hewan, melainkan bukti nyata dari toleransi, persatuan, dan kepedulian sosial adalah kekuatan utama yang mampu menyatukan seluruh warga.



Pewarta: Tim Redaksi Antara Bali
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026